FB Tweet Group
TOLONG!!! Jangan KLIK INI !!!

artis, selebritis, properti, rumah, apartemen, penthouse, landed house, villa, mobil, tanah, pendidikan, motor, anjing

Halaman

About

My Ping in TotalPing.com
Diberdayakan oleh Blogger.

artikel terbaru

Search

15.30

Mata Pelajaran Berkurang, Jam Pelajaran Bertambah

JAKARTA, KOMPAS.com - Pengurangan jumlah mata pelajaran untuk berbagai tingkatan sekolah baik Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) akan dilakukan sebagai salah satu bagian dari perombakan kurikulum. Meski jumlah mata pelajaran berkurang, durasi belajar anak di sekolah justru akan ditambah.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Mohammad Nuh, mengatakan bahwa penambahan jam belajar pada siswa dari berbagai jenjang ini masih masuk akal dan dinilai tidak akan memberatkan para siswa. Pasalnya, durasi belajar di Indonesia masih terbilang singkat dibandingkan negara lain.

"Memang berdasarkan perbandingan dengan negara lain, jam belajar di sekolah untuk Indonesia cukup singkat. Apalagi untuk anak usia 7 sampai 8 tahun. Dalam sehari kisarannya hanya sekitar 4 sampai 5 jam," kata Nuh, saat jumpa pers di Kantor Kemdikbud, Jakarta, Selasa (13/11/2012).

"Sebenarnya dengan Finlandia, kita tidak jauh berbeda. Tapi dia menambah dengan tutorial. Jadi tiap anak atau beberapa anak diberi tutor untuk belajar di luar sekolah," imbuh Nuh.

Penambahan jam belajar ini, lanjutnya, juga mengikuti pola baru dalam kurikulum yang akan diberlakukan pada Juni 2013 nanti. Anak-anak akan diberi ruang seluas-luasnya untuk melakukan observasi dan memperdalam ilmu dengan mencari tahu melalui praktik ringan.

"Biasanya siswa diberitahu, sekarang siswanya didorong untuk mencari tahu. Ini tentu membutuhkan waktu yang tidak singkat," ujar Nuh.

Dengan demikian untuk jenjang SD dengan konten enam mata pelajaran, jam belajar akan ditambah sebanyak empat jam pelajaran per minggu. Untuk SMP dengan 10 mata pelajaran, ditambah menjadi enam jam pelajaran per minggu. Sementara untuk SMA tidak banyak mengalami perubahan untuk jumlah mata pelajaran dan jam belajar.

"Jadi kalau jenjang SD, untuk tahun ajaran berikutnya minimal jam belajar di sekolah itu 30 jam per minggu. Rata-rata paling tidak sampai 35 jam per minggu. Sebelumnya kan hanya 26-28 jam per minggu," tandasnya.
Editor :
Caroline Damanik
info
15.30

Dampak Kurikulum Baru pada Pelaksanaan UN

JAKARTA, KOMPAS.com - Setelah dipaparkan pada Wakil Presiden Republik Indonesia (RI) Boediono, Selasa lalu, kurikulum baru akan segera diuji publik dengan menawarkan berbagai pilihan terkait struktur kurikulum tiap jenjang maupun teknis penerapannya. Untuk jenjang Sekolah Dasar (SD), kurikulum baru ini nyaris merombak keseluruhan sistem pembelajaran.

Sebagai dampak, muncul pertanyaan apakah Ujian Nasional (UN) akan tetap dapat dilakukan dengan sistem pembelajaran berbasis tematik integratif ini?

Anggota Badan Standarisasi Nasional Pendidikan (BSNP), Teuku Ramli Zakaria, mengatakan bahwa ada kemungkinan UN ditiadakan pada tingkat SD. Namun bisa jadi UN tetap berlanjut dengan pola dan cara yang berbeda dari yang selama ini dijalankan.

"Bisa jadi tidak ada UN. Tapi bisa juga UN tetap ada dengan kisi-kisi UN dari nasional tapi soal dibuat oleh sekolah," kata Ramli kepada Kompas.com, Jumat (16/11/2012).

Sementara untuk jenjang yang lain seperti Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA), UN tetap dijalankan seperti biasa. Ia menuturkan bahwa untuk tingkat menengah ini, UN masih dianggap penting sebagai pertimbangan proses seleksi ke jenjang selanjutnya.

Sebelumnya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh juga sempat mengatakan bahwa masalah UN untuk tingkat SD seiring diberlakukannya kurikulum baru pada Juni 2013 masih dibahas. Namun ada kemungkinan UN untuk SD dapat ditiadakan melihat sistem pembelajaran yang baru.

"Ya untuk SD yang pengaruh. Tapi masih dibahas. Kalau untuk SMA itu tetap ada," jelas Nuh.
Editor :
Caroline Damanik
info
15.29

Di SMA Unggulan DKI, Per Siswa Dimintai Rp 30 Juta

JAKARTA, KOMPAS.com — Kasus pungutan dana operasional yang dilakukan oleh pihak SMA Unggulan Mohammad Husni Thamrin, sekolah milik Pemprov DKI Jakarta, mencuat ke permukaan. Komite Sekolah menuding pihak sekolah tak menggunakan asas transparansi dalam pengelolaan anggaran.

"Di sini kami lihat masih ada seperti yang Pak Wagub bilang. Dana yang seharusnya ditanggung APBD banyak juga yang dilimpahkan dan ditanggung oleh kami," tutur Dedi Windiarso, Ketua Komite Sekolah SMA MH Thamrin, seusai berdialog dengan Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, Rabu (14/11/2012).

Dedi yang mewakili 195 murid yang mengenyam pendidikan di sekolah unggulan tersebut merasa keberatan atas pungutan tambahan dari pihak sekolah. Padahal, pada saat pendaftaran masuk sekolah, iklan sekolah di internet menyebutkan bahwa sekolah tersebut ditanggung oleh APBD.

Secara khusus, pihak Komite pun meminta solusi kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, khususnya kepada Gubernur dan Wakil Gubernur untuk mengeluarkan Peraturan Gubernur demi menyelesaikan masalah tersebut. Pungutan itu sendiri telah dialami murid sejak empat tahun.

"Kalaupun mungkin saat ini tidak bisa, dilakukan pengurangan. Jangan seperti tahun lalu, bisa Rp 30 juta per anak. Mudah-mudahan dengan SK bisa hilang atau turun signifikan," lanjut Dedi.

Terkait hal ini, Basuki memberi waktu pada sekolah untuk merevisi Rencana Anggaran Kegiatan Sekolah (RAKS) 2012. Pria yang akrab disapa Ahok itu berharap agar kesalahan masa lalu tak terulang di masa sekarang.

"Kami ada waktu dua minggu untuk merancang ulang pergub-pergub. Seluruh Rencana Anggaran Kegiatan Sekolah (RAKS) sekolah direvisi berdasarkan asas kepatutan. Kami minta jangan ingat-ingat masa lalu," ujar Ahok.

Permasalahan yang terjadi di sekolah unggulan satu-satunya milik Pemerintah Provinsi DKI tersebut adalah pungutan sebesar Rp 30 juta kepada orangtua peserta didik. Pungutan itu dianggap membebani murid yang pada dasarnya telah dibiayai APBD sebesar Rp 3,7 miliar.
Berita terkait dapat diikuti di topik:
100 HARI JOKOWI-BASUKI
info
15.28

Ini Konsep Syarat Masuk PTN Tahun Depan

JAKARTA, KOMPAS.com - Wacana hasil Ujian Nasional (UN) untuk jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) akan dijadikan salah satu syarat bagi siswa yang ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi negeri (PTN) menguat. Tahun depan, rencana ini bakal diterapkan. Oleh karena itu, calon lulusan SMA/SMK diminta untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin.

Anggota Badan Standarisasi Nasional Pendidikan (BSNP), Teuku Ramli Zakaria, mengatakan hasil UN akan dijadikan syarat, namun tidak berdiri sendiri. Ujian masuk PTN tetap akan digelar. Namun, ujiannya hanya berisi tes potensi akademik saja. Materi mata pelajaran tidak lagi diujikan dalam ujian masuk ini.

"(Tes) mata pelajarannya kan sudah melalui hasil UN. Jadi tidak perlu diujikan lagi. Hanya ada tes potensi saja dan ini biayanya juga akan lebih murah," kata Ramli kepada Kompas.com, Jumat (16/11/2012).

Oleh karena itu, BNSP sebagai bagian dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan terus mengkaji rencana soal UN untuk tahun depan. Sampai saat ini, kisi-kisi soal UN 2013 sudah rampung disusun.

Rencananya, Selasa (20/11/2012), kisi-kisi ini sudah dapat diakses oleh para guru melalui situs BSNP atau situs milik Pusat Penilaian Pendidikan (Puspendik) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

"Kisi-kisi sudah selesai. Nanti bisa langsung dilihat di situs kami. Yang pasti tidak akan bergeser jauh dari tahun sebelumnya," jelas Ramli.

"Variasi soal tetap 20 jenis seperti yang telah dibicarakan. Jadi dalam satu kelas, siswa mendapat soal yang berbeda agar tetap konsentrasi mengerjakan," tandasnya kemudian.
Editor :
Caroline Damanik
info
15.27

Semua Sekolah di Jakarta Bermasalah karena...

JAKARTA, KOMPAS.com — Semua sekolah, terutama di Jakarta, bermasalah. Demikian penilaian Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama di sela-sela kunjungannya ke SMA Negeri Unggulan MH Thamrin, Jalan Bambu Apus, Cipayung, Jakarta Timur, Rabu (14/11/2012).

Apa yang membuatnya menilai demikian?

"Sebetulnya semua sekolah di Jakarta itu bermasalah karena NEM dijadikan tolok ukur penerimaan," kata Basuki.

Ia menjelaskan, semua sekolah kini mengedepankan hasil nilai ujian untuk menyeleksi siswa barunya. Sementara itu, di sisi lain, banyak siswa miskin yang memiliki kemampuan standar atau bahkan di bawah rata-rata, tetapi ingin merasakan pendidikan berkualitas di sekolah yang baik.

Menurutnya, anak-anak yang berasal dari keluarga mampu selalu dapat mengikuti les atau bimbingan belajar di luar jam sekolah. Walau demikian, siswa dari keluarga miskin sulit merasakan hal serupa karena harus bergumul dengan kesulitan hidup yang menghimpit.

"Para siswa yang mengikuti les pasti anak orang kaya dan nilainya pasti bagus. Lalu bagaimana dengan anak-anak miskin?" tandasnya.

Banyak sekolah, khususnya yang memiliki label rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI), tidak dapat memenuhi instruksi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, yang mengharuskan sekolah memberikan 20 persen kursinya untuk anak-anak tidak mampu. Alasannya beragam, mulai dari sekolah yang mempersempit akses siswa miskin, hingga karena siswa miskin "ketakutan" belajar di sekolah unggulan karena khawatir dengan tekanan sosial setelahnya.
Editor :
Caroline Damanik
info
15.26

DRAF STRUKTUR KURIKULUM SMA MASIH PENUH ALTERNATIF

BUTUH GURU LES PRIVAT UNTUK ANAK ANDA?

JAKARTA, KOMPAS.com - Draf perubahan struktur kurikulum untuk sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) sudah disampaikan sebelumnya. Kini, soal kurikulum sekolah menengah atas (SMA). Pembahasan kurikulum baru yang akan diterapkan pada Juni 2013 ini masih menyisakan permasalahan struktur kurikulum SMA.

Kalaupun jadi, kurikulum untuk SMA belum akan diterapkan secara menyeluruh. Hal ini terkait dengan masalah penjurusan pada jenjang pendidikan menengah ini.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Mohammad Nuh, mengatakan bahwa masalah kurikulum untuk tingkat SMA ini memang akan diperdalam lagi. Namun telah mengemuka tiga alternatif yaitu tidak ada penjurusan sama sekali, penjurusan pada kelas X atau pemilihan mata pelajaran berdasarkan minta pada pendidikan lanjutan.

"Tapi ini masih dibahas lebih dalam lagi. Karena tiga alternatif ini punya kelebihan dan kekurangan masing-masing," kata Nuh, saat jumpa pers di Kantor Kemdikbud, Jakarta, Selasa (13/11/2012).

Mata pelajaran tak berubah
Untuk jenjang menengah atas ini, jumlah mata pelajaran tidak mengalami perubahan hanya saja waktu belajar tetap ditambah sekitar satu jam pelajaran per minggu. Sementara itu, diusulkan adanya integrasi vertikal dengal perguruan tinggi agar memudahkan anak-anak untuk melanjutkan pendidikan.

Bina life and career skills

Berbeda dengan tingkat SMA, untuk jenjang Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) pengguna industri akan dilibatkan dalam penyusunan kurikulum untuk SMK. Kemudian muncul usul agar diadakan semacam pendalaman materi berhubungan dengan life and career skills.

UN untuk kelas XI?

Kemudian untuk dua tingkatan ini juga ada saran terkait penyelenggaraan Ujian Nasional (UN) yang sebaiknya dilakukan pada kelas XI. Dengan majunya waktu UN, anak-anak SMK akan fokus untuk ujian sertifikasi keahlian pada kelas XII. Sedangkan anak-anak SMA akan berkonsentrasi untuk ujian masuk perguruan tinggi pada kelas XII.


Editor :
Caroline Damanik
15.26

Draf Kurikulum Baru SMP, Ada Apa Saja?

JAKARTA, KOMPAS.com — Kurikulum baru yang akan mulai diterapkan pada Juni 2013 nanti disebut akan mengasah tiga kompetensi anak, yaitu sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Ini akan diaplikasikan pada setiap jenjang pendidikan, dari sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah atas (SMA).

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh mengatakan bahwa perubahan kurikulum ini akan berimbas pada perubahan standar kompetensi lulusan. Adapun standar kompetensi lulusan ini didasarkan pada tiga ranah, yaitu sikap, keterampilan, dan pengetahuan.

"Sama saja dengan SD. Struktur kurikulum SMP bertujuan membentuk anak-anak ini memiliki kompetensi dalam ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuan," kata Nuh saat jumpa pers di Kantor Kemdikbud, Jakarta, Selasa (13/11/2012).

10 mata pelajaran
Ada Bahasa Inggris dan TIK


Untuk jenjang SMP, jumlah mata pelajaran juga berkurang dari 12 mata pelajaran menjadi 10 mata pelajaran. Pada tingkatan ini, IPA dan IPS sudah muncul, tetapi tetap sebagai mata pelajaran integrative science dan integrative social studies bukan sebagai pendidikan disiplin ilmu.

"Bahasa Inggris sudah mulai diajarkan untuk membentuk keterampilan berbahasa anak-anak," ujar Nuh.

Seperti diketahui dalam struktur kurikulum yang dijalankan saat ini, anak-anak SMP mendapat pembelajaran berupa teknologi informasi dan komunikasi (TIK), muatan lokal, dan pengembangan diri. Dengan adanya pengurangan mata pelajaran pada kurikulum baru, tiga mata pelajaran ini diintegrasikan dengan mata pelajaran yang ada.

"Muatan lokal itu masuk ke Seni Budaya, Penjaskes, dan Prakarya kalau tingkat SMP. Tingkatan ini juga TIK tidak akan berdiri sendiri, tapi jadi media untuk semua mata pelajaran," kata Nuh.

Durasi belajar di sekolah bertambah

Sama seperti pada tingkatan sebelumnya, durasi belajar di sekolah untuk anak SMP juga bertambah sebanyak enam jam pelajaran per minggu. Jika sebelumnya anak-anak akan belajar selama 32 jam di sekolah, nanti mereka akan belajar selama 38 jam di sekolah.

Pramuka juga wajib

Untuk ekstrakurikuler, anak-anak ini dapat memilih, seperti Palang Merah Remaja (PMR), UKS, OSIS, dan berbagai kegiatan yang ditawarkan oleh sekolah. Namun, yang wajib diikuti oleh anak-anak ini sebagai kegiatan ekstrakurikuler adalah Pramuka.
Editor :
Caroline Damanik
info