FB Tweet Group
TOLONG!!! Jangan KLIK INI !!!

artis, selebritis, properti, rumah, apartemen, penthouse, landed house, villa, mobil, tanah, pendidikan, motor, anjing

Halaman

About

My Ping in TotalPing.com
Diberdayakan oleh Blogger.

artikel terbaru

Search

17.54

Pemilihan Rektor IPB Molor dari Jadwal

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemilihan Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) periode 2012 -2017 yang sedianya tuntas pada 16 November mendatang diperkirakan molor. Sebab, sidang Majelis Wali Amanat (MWA) IPB masih memastikan kehadiran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang memiliki hak 35 persen dari total suara MWA.
Dari pemantauan di laman resmi Panitian Pemilihan Rektor IPB, Senin (19/11/2012), didapat konfirmasi dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, rapat paripurna MWA untuk pemilihan rektor IPB periode 2012-2017 yang semula dijadwalkan oleh MWA pada tanggal 19 November 2012, akan dilaksanakan pada akhir November 2012.

Sekretaris MWA IPB Rizal Sjarief Saiful Nazil dalam suratnya mengatakan pemilihan tiga calon rektor yang sudah diajukan ke MWA oleh Senat Akademik (SA) IPB setelah 16 November. Sebelumnya dijadwalkan pemilihan rektor definitif di antara 9-16 November.
MWA IPB telah menerima tiga nama yakni Asep Saefudin, Herry Suhardiyanto, dan M Zairin Junior. Dari proses pemilihan sebelumnya, terlihat Rektor IPB saat ini, Herry Suhardiyanto, berpeluang memimpin IPB kembali.
Pada pemilihan Rektor IPB, Mendikbud memiliki 35 persen suara, sedangkan anggota MWA lainnya 65 persen. Pemilihan rektor definitif dilaksanakan dalam sidang paripurna MWA yang dilakukan secara tertutup.

 
Editor :
Robert Adhi Ksp
info
17.53

Indonesia Tuan Rumah Kongres Bahasa Perancis I di Asia Tenggara

JAKARTA, KOMPAS.com —  Kongres bahasa Perancis pertama di Asia Tenggara bakal digelar di Indonesia pada 22-23 November 2012 di Hotel Harris Kelapa Gading, Jakarta. Pada kongres yang digagas Institut Francais Indonesia (IFI) ini hadir sekitar 200 peserta dari 10 negara ASEAN.
Ananda Dinanti Mackulau, penanggung jawab media IFI, di Jakarta, Senin (19/11/2012), menjelaskan forum frankofoni ini akan diikuti lebih dari 200 peserta yang terdiri dari para pengajar bahasa Prancis dari universitas, SMA, Institut Français dan Alliances Française, para Presiden Asosiasi Pengajar Bahasa Prancis,serta para kepala jurusan bahasa Perancis dari sejumlah universitas.
Selain itu, juga para direktur kursus dan penanggung jawab pengajaran dari Institut Français, Alliance Française, dan sejumlah sekolah swasta, para atase bahasa Perancis dan koordinator bidang linguistik dari Kedutaan Besar Perancis se-ASEAN, para profesional penutur bahasa Perancis, para pejabat penanggung jawab pendidikan di kesepuluh negara, para penanggung jawab OIF (Organisasi Frankofoni Internasional) dan AUF (Perhimpunan Universitas Frankofon), para ahli dari pusat-pusat pelatihan, para penerbit, serta mahasiswa bahasa Perancis.

Pada forum ini akan diadakan berbagai workshop mengenai teknologi baru yang berguna untuk para pengajar bahasa Perancis. Selain itu, forum frankofoni pertama di Asia Tenggara ini merupakan kesempatan bagi para penutur bahasa Perancis untuk berdiskusi.

Tema-tema yang diangkat dalam kongres bahasa Perancis Asia Tenggara ini adalah posisi bahasa Prancis saat ini, problematika penerjemahan, pengajaran dwibahasa dan jurusan bahasa Prancis di universitas, bahasa Perancis untuk dunia kerja, peran universitas dalam pengajaran bahasa Perancis di SMP dan SMA, serta pelatihan untuk para pengajar bahasa Perancis.

Forum ini juga akan menyajikan berbagai presentasi mengenai kebijakan-kebijakan linguistik di Asia Tenggara, serta mekanisme hubungan finansial dan proyek-proyek kerja sama yang bersifat mutual antarjaringan frankofoni di negara-negara ASEAN.
Forum ini merupakan kesempatan bagi para pelaku kerja sama linguistik dan persebaran bahasa Perancis di Asia Tenggara untuk bertemu dan membahas masa depan bahasa Perancis di wilayah ini.

Informasi lebih lanjut bisa di lihat di laman www.institutfrancais-indonesia.com. 

 
Editor :
Robert Adhi Ksp
info
17.53

Ikapi Dorong RUU Perbukuan Disahkan

 JAKARTA, KOMPAS.com — Ikatan Penerbit Indonesia mendorong pemerintah dan DPR segera mengesahkan Rancangan Undang-Undang Perbukuan sebagai payung hukum untuk memajukan perbukuan di Indonesia.
Sekarang, tidak jelas siapa yang bertanggung jawab mengembangkan perbukuan di Tanah Air. Ikapi kan terbatas.
-- Lucya Andam Dewi
Dengan adanya Undang-Undang Perbukuan diharapkan ada kejelasan badan atau institusi yang bertanggung jawab untuk mendukung kemajuan atau perkembangan perbukuan di Indonesia.
"Tantangan perbukuan di Indonesia ini masih berat dan belum tuntas. Masalah ini perlu diperhatikan serius. Perlu ada kejelasan siapa yang bertanggung jawab dan langkah-langkah yang diambil," kata Ketua Umum Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) Pusat Lucya Andam Dewi di Jakarta, Senin (19/11/2012).
"Sekarang, tidak jelas siapa yang bertanggung jawab mengembangkan perbukuan di Tanah Air. Ikapi kan terbatas. Karena itu, Ikapi berharap RUU Perbukuan segera disahkan sebagai landasan hukum bagi pemerintah untuk bekerja membangun dunia perbukuan Indonesia," kata Lucya Andam Dewi.
Bambang Trimansyah, Ketua Kompartemen Pendidikan dan Latihan, Penelitian dan Pengembangan, serta Informasi Ikapi, mengatakan bisnis industri perbukuan Indonesia, terutama buku umum, dalam dua-tiga tahun terakhir ini terasa mandek. Sebaliknya, pertumbuhan judul atau penulis buku melesat.  Data dari Toko Buku Gramedia tahun 2011, satu bulan menerima sekitar 2.300 judul buku.
"Masalahnya kita masih perlu penelitian apakah pembacanya juga cenderung bertumbuh signifikan. Faktanya, kelemahan dalam bisnis perbukuan di Indonesia adalah tersendatnya pertumbuhan saluran penjualan buku yaitu toko buku," kata Bambang.
Editor :
Robert Adhi Ksp
info
17.52

Belajar dari Jepang tentang Siswa Berkebutuhan Khusus

JAKARTA, KOMPAS.com - Selama 12 hari, ada 11 guru dari pondok pesantren seluruh Indonesia dikirim ke Jepang untuk melihat pola pendidikan yang diterapkan di sana. Salah satu hal yang mencuri perhatian para guru ini adalah penanganan anak-anak disabilitas dalam sekolah.

Guru dari Pondok Pesantren Dayah Darul Ihsan Aceh, Mutiara Fahmi Razali, mengatakan bahwa para guru di Jepang sangat sabar dalam menangani anak-anak berkebutuhan khusus ini. Uniknya lagi, anak-anak penyandang disabilitas ini tidak dibedakan dengan anak-anak lain.

"Kalau di sini, anak-anak disabilitas ingin belajar harus masuk SLB. Tapi di Jepang, semua anak berhak belajar di sekolah swasta dan sekolah negeri apapun kondisinya," kata Fahmi, saat Penyerahan Sertifikat Kunjungan ke Jepang di Hotel Pullman, Jakarta, Jumat (16/11/2012) malam.

Menurutnya, hal ini memiliki efek positif yang luar biasa karena anak-anak ini tumbuh dengan rasa percaya diri. Meski memiliki kekurangan tertentu, anak-anak ini tidak akan merasa rendah diri dan justru membuatnya termotivasi untuk mengubah kekurangan menjadi kelebihannya.

"Waktu itu, saya melihat ada anak down syndrome berusia sekitar 10 tahun sudah mampu membuat kerajinan tangan. Saya di Aceh ada saudara dengan down syndrome juga, sudah umur 17 tahun tidak bisa apa-apa karena mencecap pendidikan sekalipun tidak," ujar Fahmi.

Dalam kesempatan yang sama, guru dari pondok pesantren As-Salaam Jawa Tengah, Muflih Wahyanto, mengungkapkan hal serupa. Ia takjub melihat seorang guru di sebuah Sekolah Dasar (SD) dengan sabar mengurus seorang anak berkebutuhan khusus. Saat ada kegiatan makan bersama, guru tersebut menyuapi si anak dengan telaten.

"Saya belum pernah lihat ada guru di Indonesia sesabar dan setelaten itu. Hal-hal semacam itu kami pelajari banyak dari Jepang," ungkap Muflih.
Editor :
Caroline Damanik
info
17.51

LKS 'Nyeleneh' di Sekolah, Tanggung Jawab Guru

JAKARTA, KOMPAS.com - Masih ingat dengan cerita tentang Bang Maman dari Kali Pasir yang muncul di Lembar Kerja Siswa (LKS) kelas II? Atau lembar kerja siswa (LKS) bergambar Miyabi untuk siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang sempat membuat heboh masyarakat? Mengapa LKS semacam ini bisa layak terbit?

Kepala Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Diah Harianti, mengatakan bahwa masalah LKS dengan konten yang tidak layak tersebut merupakan tanggung jawab dari para guru. Ia mengakui bahwa masalah konten tidak layak tersebut banyak muncul dalam LKS.

"Untuk buku ajar, kami yang melakukan penilaian terhadap konten. Hanya sayangnya, sebagian besar konten bermasalah adalah LKS," kata Diah kepada Kompas.com, Senin (19/11/2012).

"Untuk LKS ini sebenarnya tidak bisa dianggap tanggung jawab pemerintah. Karena LKS ini dapat dibeli mandiri dan bebas oleh para guru atau sekolah," jelas Diah.

Ia menambahkan bahwa terkait masalah bahan ajar, pemerintah hanya menginstruksikan tentang buku ajar baik untuk guru maupun siswa. Sementara itu, LKS merupakan suplemen yang dipilih guru untuk melatih kemampuan siswanya sehingga guru yang menentukan LKS mana yang akan digunakan.

Untuk itu, penilaian konten sebenarnya langsung berada di tangan guru atau kepala sekolah. Jika memang dianggap ada hal yang tidak sesuai dalam konten LKS tersebut, guru atau kepala sekolah yang pertama kali mengetahuinya sehingga tidak perlu menggunakan LKS tersebut untuk siswa.

"Awalnya berasal dari guru. Baru setelah itu kepala sekolah. Jika tidak selesai baru naik ke Dinas Pendidikan setempat. Urutannya seperti itu," tandasnya.
 
Editor :
Caroline Damanik
info
17.49

Alasan Perubahan Kurikulum Dipertanyakan

JAKARTA, KOMPAS.com - Perubahan kurikulum untuk tahun ajaran 2013/2014 menuai kritik dari para pengamat pendidikan dan juga dari guru yang nantinya akan menjadi ujung tombak dari penerapannya. Pengamat pendidikan dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Lody Paat, mengatakan bahwa pemerintah harus menjelaskan alasan perubahan kurikulum secara jelas pada masyarakat. Ada kewajiban untuk menunjukkan penelitian kurikulum yang pemerintah lakukan dan apa hasilnya sehingga harus diubah.

"Alasannya harus benar dan sesuai secara pedagogis. Jangan hanya karena sudah menjadi rencana kerja saja. Penelitian yang mereka lakukan juga apa hasilnya," kata Lody kepada Kompas.com, Senin (19/11/2012).

Menurutnya, penataan pendidikan ini harus diawali melalui masing-masing sekolah terlebih dahulu. Perubahan kurikulum secara nasional ini dinilainya tidak akan dapt diterima baik. Sementara penataan pendidikan dari sekolah akan lebih efektif karena sekolah yang paham benar dengan kondisi yang ada.

"Sekarang diubah semua seluruh Indonesia. Tiap daerah berbeda karakteristiknya. Harusnya ditinjau dulu dan lihat masalah utamanya," ujar Lody.

Sementara itu guru dari Pondok Pesantren Dayah Darul Ihsan Aceh, Mutiara Fahmi Razali, mengatakan bahwa pendidikan di Indonesia tidak memiliki visi dan misi yang jelas. Hal ini tercermin dari mudahnya satu kurikulum berubah tanpa didasari alasan.

"Saat di Jepang, saya lihat ada kejelasan visi dan misi pendidikan. Kemudian kurikulum tidak berubah-ubah tiap ganti menteri," jelas Fahmi.

Saat berkunjung ke Jepang, ia sempat berbincang dengan kepala sekolah di sana. Perubahan kurikulum di Jepang sendiri baru terjadi paling cepat setelah 10 tahun. Pasalnya, penilaian kurikulum tersebut tidak dapat dilakukan dalam waktu cepat dan melihat dampaknya secara instan saja.

"Paling tidak 10 tahun baru berganti. Jangan ada masalah sedikit, ganti kurikulum. Kalau begini kasihan anak didik dan gurunya juga," ungkap Fahmi.
info
17.47

Ajar 'Go Green' pada Anak dengan musik Rap

JAKARTA, KOMPAS.com - Kampanye cinta alam dan penyelamatan bumi akan terus disuarakan orang-orang yang peduli dengan lingkungan. Suara itu terus didengungkan, dinyanyikan, bahkan diteriakkan agar terus melekat di benak para generasi penerus yang akan datang.

Pesan untuk cinta pohon dan lingkungan pun dapat disampaikan lewat nyanyian rap. Ya, genre musik rap ternyata juga disukai anak-anak. Dipadukan dengan lagu-lagu yang dibawakan oleh penyanyi Oppie Andaresta

"If I say go, go! If I say green, green. If we say it together, we say what?" ungkap Iwa K dengan nge-rap.

"Go green...!" teriak anak-anak Sekolah Dasar (SD) Global Mandiri mengikuti lagu rap yang dibawakan Iwa K dalam Tur Edukasi Bumiku Lestari di Cibubur, Kamis (8/11/2012).

Sekolah Global Mandiri, yang kali itu mendapat kesempatan bekerjasama dengan World Wildlife Fund (WWF) didukung oleh Bank BNI, sengaja ingin menanamkan kecintaan anak-anak terhadap lingkungannya melalui berbagai cara, salah satunya lewat lagu dan nyanyian Rap tadi.

"Anak-anak seperti biasa, selalu bisa merespon hal-hal yang baik dengan sesuatu yang baik dan positif pula. Saya senang, mereka disini bisa mengikuti lagu-lagu tentang mengajak cinta lingkungannya, dan saya harap pesannya juga bisa mereka serap," ujar Oppie Andaresta usai tur di sekolah ini.

"Iwa K dalam penampilannya tadi membawa tiga lagu nge-rap yang ia buat spontan, tapi asik. Dia memberikan warna yang menarik sehingga anak-anak disini bisa pulang dengan membawa kesan dan pesan go green-nya itu," tambahnya.

Resha Rashtrapatiji, pendongeng yang juga ikut serta dalam tur ini mengaku juga berminat untuk belajar nge-rap. Selain dengan lagu dan musik, dia ingin memadukan dongeng dengan rap.

"Saya jadi tertarik belajar nge-rap supaya bisa membawakan dongeng dengan lebih berwarna. Anak-anak mudah menerima pesan positif yang disampaikan dengan cara-cara yang unik," tuturnya kepada Kompas.com dalam tur sebelumnya.

Dalam tur berdurasi 2,5 jam lebih itu juga terdapat berbagai aktivitas yang menyenangkan terkait ajakan untuk mencintai lingkungan. Ada pembacaan cerita dongeng tentang penyelamatan hewan-hewan langka yang salah satunya orang hutan di Kalimantan, dilanjutkan dengan nonton film tentang pelestarian hutan, juga aksi penanaman pohon cendana, dan sosialisasi lagu anak-anak yang diciptakan dan dinyanyikan Oppie Andaresta dan Iwa K.

Salah satunya, lagu berjudul "Tanam Pohon". Anak anak SD Global Mandiri kelas 1-3 ini turut menyanyikannya bersama-sama dengan antusias.

Dalam tur ini juga, setiap sekolah di Jabodetabek yang dikunjungi 3-20 November mendatang akan mendapat 100 buah buku dan album “Bumiku Lestari” karya Oppie Andaresta. Oppie sengaja membuat buku dan album “Bumiku Lestari” untuk membagi pengetahuan lingkungan hidup kepada anak-anak agar mereka mengerti arti penting memelihara lingkungan hidup.

"Sebab, melalui buku dan album ini saya ingin mengajak anak saya dan teman-temannya untuk lebih mencintai bumi dengan cara menanam dan memelihara pohon, hemat listrik, air, dan mau bersepeda, serta memisahkan dan mendaur ulang sampah," jelasnya.
 
Editor :
Caroline Damanik
info