FB Tweet Group
TOLONG!!! Jangan KLIK INI !!!

artis, selebritis, properti, rumah, apartemen, penthouse, landed house, villa, mobil, tanah, pendidikan, motor, anjing

Halaman

About

My Ping in TotalPing.com
Diberdayakan oleh Blogger.

artikel terbaru

Search

22.16

TEMUI JOKOWI AGAR ANAK INDONESIA TAK LAGI MINDER

JAKARTA, KOMPAS.com - Usianya baru 18 tahun. Namun, prestasinya sudah melintas benua.

Hartadinata Harianto adalah seorang pelajar Indonesia asal Surabaya yang menempuh pendidikan di sekolah bergengsi di Amerika Serikat yang dana operasionalnya dibantu Bill dan Melinda Gates Foundation, yaitu sekolah khusus percepatan dan favorit untuk jenjang SMA bernama Bard High School Early College.

Pagi ini, Kamis (3/1/2013), Hartadinata datang menemui Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo di Balaikota Jakarta. Dia datang dengan membawa proposal kepada Jokowi agar diizinkan untuk memberikan motivasi kepada para siswa di sejumlah SMA di Jakarta.

"Saya datang ke Indonesia dalam rangka vacation dan saya juga ingin sekali membantu negara ini mencapai goal-nya. Saya tadi mengajukan proposal untuk saya datang ke sekolah-sekolah di Jakarta untuk memberi motivasi ke anak-anak," kata Hartadinata.

Melalui berbagi motivasi kepada anak-anak SMA di Jakarta, Hartadinata ingin menghapus rasa minder anak Indonesia di hadapan negara dan bangsa lainnya. Dia berharap bisa membangun kepercayaan diri generasi muda Indonesia untuk berprestasi di kancah internasional.

"Ini sudah waktunya Indonesia untuk go internasional dan saya itu ingin menghapus mentalitas-mentalitas 'Oh kita enggak bisa, kita cuma Indonesia'. Sudah saatnya Indonesia maju," tegasnya.

Dalam pertemuan tersebut, Hartadinata belum memperoleh kepastian mengenai rencana tersebut. Namun, dia mengaku tinggal menunggu kabar dari Jokowi pekan depan.

Hartadinata berani kembali menemui Jokowi karena dia sudah pernah memberikan motivasi kepada siswa SMA bersama Jokowi ke SMKN 2, SMAN 1 dan SMAN 2 Solo pada 23 Februari 2012 saat Jokowi masih menjabat sebagai Walikota Solo.

Sarjana 19 tahun

Dalam pertemuan itu pula, Hartadinata sempat menjabarkan berbagai prestasi yang sudah diraihnya. Perjuangan Hartadinata di bidang sains dan matematika berhasil meraih dua penghargaan Museum Rekor Indonesia (MURI).

Tak hanya itu, pencapaian prestasi yang gemilang dari putra bangsa ini membuat Duta Besar di Indonesia di Washington DC tak ketinggalan memberikan penghargaan. Hartadinata memperoleh penghargaan Ambassador Awards for Excellence dari Duta Besar Indonesia di Washington Dino Patti Djalal pada Desember 2011.

"Saya juga mendapatkan full scholarship di sekolah saya. Saya juga dipilih menjadi Student University Conselor," kata Hartadinata.

Pada tahun 2008, dia juga menerima Presidential Award for Education dari Mantan Presiden AS George W. Bush. Tinggal satu semester lagi, Hartadinata akan lulus. Jika tepat waktu, Hartadinata akan lulus menjadi seorang sarjana pada usia 19 tahun.

"Dan terakhir waktu lulus saya juga sementara ini Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) saya masih tetap 4,00 ya. Saya tinggal setengah tahun lagi lulus, di umur saya sekarang sudah semester enam," katanya.
 
Editor :
Caroline Damanik
info
22.13

PIKIRKAN PELATIHAN GURU YANG LEBIH KOMPREHENSIF

JAKARTA, KOMPAS.com - Pengelolaan guru sepanjang tahun 2012 dinilai masih menjadi pekerjaan rumah yang belum juga diselesaikan. Peningkatan profesionalisme guru melalui pelatihan dinilai tak kunjung jadi jalan keluar karena tidak dilakukan dengan komprehensif.

Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Sulistiyo mengatakan, langkah peningkatan profesionalisme guru tidak pernah dilakukan secara komprehensif karena pemerintah hanya berfokus pada pelaksanaan sertifikasi tanpa menindaklanjutinya melalui evaluasi dan pelatihan pascasertifikasi.

"Pelaksanaan sertifikasi tak memiliki konsistensi justru mengabaikan tindak lanjut untuk menjaga dan meningkatkan kompetensi guru pascasertifikasi," tuturnya dalam Refleksi Akhir Tahun 2012 di Gedung Guru, Jumat (28/12/2012).

Sulistiyo mencontohkan kebijakan Uji Kompetensi Awal (UKA) dan Uji Kompetensi Guru (UKG). Kebijakan "tiba-tiba" itu dinilai PGRI diselenggarakan tanpa persiapan yang matang dan tanpa tindak lanjut yang jelas.

"Janji pemerintah untuk melakukan diklat bagi guru pasca-UKG sampai kini tak jelas konsep dan rancangannya," katanya kemudian.

PGRI juga mencatat pembinaan guru, baik profesi maupun karier, di kabupaten dan kota tidak dilakukan dengan benar. Banyak guru yang tidak memperoleh pembinaan dengan baik, termasuk peningkatan kompetensinya.

Karena pelatihan guru yang tak kunjung konsisten untuk menunjang kualitas guru itulah, PGRI juga tak yakin kurikulum baru dapat diterapkan dengan baik tahun depan.
Editor :
Caroline Damanik
info
14.45

HATTA RAJASA AKAN PERHATIKAN KORBAN TABRAKAN

JAKARTA, KOMPAS.comHatta Rajasa Akan Beri Perhatian Lebih kepada Korban. Menteri Perekonomian RI Hatta Rajasa mengaku akan bertanggung jawab dan terus memberi perhatian lebih kepada keluarga korban kecelakaan yang ditinggalkan dan korban luka-luka. Ia pun berkali-kali menyampaikan permohonan maaf dan duka yang mendalam atas peristiwa kecelakaan yang melibatkan putranya, Muhammad Rasyid Amirullah Rajasa (22).
"Saya mohon doa restu saudara-saudara sekalian agar kami dapat menerima musibah ini, sekaligus mendoakan keluarga yang tertimpa musibah agar arwahnya diterima. Kami akan terus memberikan perhatian yang tinggi kepada keluarga korban dan juga yang sedang dirawat di rumah sakit," ujar Hatta saat jumpa pers di kediamannya, Perumahan Golf Mansion, Fatmawati, Jakarta Selatan, Selasa (1/1/2013) malam.
Sejak mendapat kabar anaknya menabrak mobil dan menewaskan dua orang, Hatta mengaku langsung menghubungi sanak saudaranya untuk membantu keluarga korban.
"Setelah mendengar berita itu, saya meminta keluarga pertama kali untuk segera memberikan pertolongan dan bantuan korban luka dan meninggal dunia. Saya menunggu keluarga yang ditinggalkan datang sampai sore dan malam hari," katanya.
Selain itu, Hatta mengaku sibuk dengan keluarga korban sehingga baru sempat menggelar jumpa pers pada malam hari, yakni sekitar pukul 21.00.
"Kami baru menyampaikan malam ini (jumpa pers) karena perhatian saya tertuju pada keluarga korban," ucapnya.
Seusai jumpa pers, Hatta pergi mengunjungi rumah korban meninggal dunia, yakni Harun di Tangerang, Banten. Ia juga berencana mendatangi rumah korban Raihan di Sukabumi, Jawa Barat.
Diberitakan sebelumnya, mobil BMW B 272 HR yang dikendarai Rasyid menabrak mobil Daihatsu Luxio F 1622 CY di ruas Tol Jagorawi, Selasa (1/1/2013) pagi. Akibatnya dua orang meninggal, yakni Harun (57) dan M Raihan, anak balita berumur 14 bulan.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Rikwanto mengatakan, hasil pemeriksaan awal terhadap para saksi dan penelitian di lokasi kejadian menunjukkan, kecelakaan terjadi akibat pengemudi BMW mengantuk.
Dua korban tewas dalam kecelakaan itu adalah Harun, warga Cibodas Sari, Tangerang; dan M Raihan, warga Mekarjaya, Sukabumi. Tiga orang yang luka-luka adalah Nung (30) dan Moh Rifan yang dibawa ke RS Polri, dan seorang lagi bernama Supriyati (30) yang sempat dibawa ke RS UKI.
Editor :
Tri Wahono
info
14.41

HATTA RAJASA AKAN BERI PERHATIAN LEBIH KEPADA KORBAN

JAKARTA, KOMPAS.com — Sebuah kecelakaan maut terjadi di Km 3+350 Tol Jagorawi, Selasa (1/1/2013) pagi. Sebuah mobil BMW X5 B 272 HR jenis SUV menabrak angkutan umum berpelat hitam Daihatsu Luxio F 1622 CY di lajur satu dan dua ruas tol tersebut. Peristiwa itu mengakibatkan dua orang tewas, yaitu Muhammad Raihan (1,5) dan seorang kakek dua cucu bernama Harun (57). Sementara tiga orang mengalami luka-luka, yakni Supriyati (35), Enung (30), dan Ripal (8). Ketiganya menjalani perawatan intensif. Korban tewas adalah penumpang Luxio yang memiliki jalur trayek UKI-Bogor.

Namun, saat wartawan ingin mengonfirmasi peristiwa ini, ada sejumlah kejanggalan yang ditemui. Pihak terkait, baik kepolisian maupun Jasa Marga, terkesan menutup-nutupi informasi kecelakaan ini. Belakangan, diketahui, pengemudi BMW adalah adalah Muhammad Rasyid Amirulloh Rajasa, putra Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa.

Saling lempar

Kejanggalan pertama ialah ketika mencoba mengonfirmasi kepada Kepala Satuan Patroli Jalan Raya Polda Metro Jaya AKBP Jazari. Menurut Jazari, kasus kecelakaan tersebut tidak ditangani oleh pihaknya, tetapi oleh Satuan Lalu Lintas Wilayah Jakarta Timur karena masih berada di area Jakarta Timur. Namun, saat dikonfirmasi ke Kepala Satuan Lalu Lintas Wilayah Jakarta Timur AKBP Soepoyo, informasi pun tak kunjung didapat. Menurutnya, kasus kecelakaan tersebut ditangani oleh Polda Metro Jaya, mengingat lokasi kecelakaan berada di dalam tol atau istilah yang biasa digunakan yakni "dalam pagar". Konfirmasi pun mentok.

Hal serupa juga terjadi saat para wartawan hendak mengonfirmasi hal tersebut ke pihak terkait lainnya, yakni Traffic Management Center (TMC) Polda Metro Jaya yang sebelumnya aktif dalam menginformasikan peristiwa kecelakaan di jalan, baik dalam kota maupun luar kota. Demikian juga Kepala Unit Patroli Jalan Raya Jagorawi, pejabat yang seharusnya mengetahui segala peristiwa yang terjadi di wilayah tugasnya.

Disembunyikan?


Kejanggalan lain yang ditemukan adalah ketika mencoba mengonfirmasi peristiwa kecelakaan kepada petugas call center Jasa Marga. Call Center Jasa Marga juga merupakan sarana untuk mengetahui berbagai peristiwa di dalam tol. Winda, salah satu petugas, kala itu tak menyebutkan dua huruf pelat nomor mobil yang dikemudikan oleh putera menteri tersebut. Menurutnya, Jasa Marga hanya mendapatkan informasi di lapangan bahwa pelat mobil BMW maut tersebut adalah B 272. Padahal, pelat nomor aslinya, yakni B 272 HR. Dua huruf, HR pada pelat mobil mewah itu cukup identik dengan inisial sang ayah, Hatta Rajasa. Terlebih, ia tak menyebutkan pengemudi BMW maut itu.

Keluarga diminta berdamai

Ifan (37), menantu Harun, salah seorang korban tewas, mengaku menemukan kejanggalan dalam kasus kecelakaan yang menimpa ayahnya. Menurutnya, setelah insiden kecelakaan, beberapa polisi berseragam mendatangi rumahnya di Perum I Tangerang, Banten, untuk menyampaikan kabar duka. Yang dinilai aneh, pihak yang mengaku dari Polda Metro Jaya itu meminta keluarga untuk damai dan tidak memperpanjang kasus kecelakaan itu. Bahkan, menurut Ifan, keluarga tidak diberi tahu mengenai kronologi kecelakaan yang menyebabkan sang ayah meninggal dunia tersebut.

Para polisi tersebut hanya meminta keluarga untuk segera mengambil jasad Harun dan segera memakamkannya dengan biaya seluruhnya ditanggung oleh pihak penabrak. Pihak utusan tersebut pun diketahui terus mendampingi keluarga korban, baik keluarga Harun maupun keluarga Raihan, sejak datang di Rumah Sakit Polri Bhayangkara Raden Said Sukanto. Beberapa di antaranya juga sempat melarang wartawan mewawancarai keluarga korban tanpa alasan yang jelas.

Mengaku keluarga, menolak otopsi

Sebuah kejadian janggal juga sempat terjadi di kantor administrasi ruang jenazah RS Polri. Salah seorang dari pihak utusan tersebut datang ke kantor administrasinya dan meminta kepada petugas untuk tidak melakukan otopsi terhadap tubuh korban. Namun, hal tersebut ditolak oleh pihak administrasi dengan alasan surat tersebut harus berasal dari keluarga resmi. Usahanya mentok, pria tegap yang mengenakan topi, berbaju abu-abu, dan celana loreng-loreng tersebut pun pergi. Pertanyaan yang diberikan sejumlah wartawan tak digubrisnya.

Pria yang belum sempat diketahui namanya itu diketahui kembali menemui pihak keluarga korban. Sejumlah kejanggalan lainnya juga mewarnai seluruh proses kasus tersebut, antara lain keberadaan pengemudi BMW yang terkesan disembunyikan serta penetapan status kepada pengemudi oleh pihak kepolisian. Seluruh hal tersebut menjadi sorotan mengingat pada kasus kecelakaan sebelumnya. Polisi tampak sangat sigap untuk melanjutkan proses hukumnya. Kini, korban tewas sudah dibawa ke rumahnya masing-masing. Jenazah Harun telah dibawa ke rumah saudara di daerah Jembatan Besi, Jakarta Barat, untuk selanjutnya dimakamkan di kampung halamannya di Serang, Banten.

Sementara itu, jenazah Raihan juga telah dibawa dan akan dimakamkan di rumahnya, Sukabumi, Jawa Barat. Keluarga korban berharap kasus kecelakaan maut tersebut terang benderang dan tidak ditutup-tutupi. Keluarga juga berharap kepada pihak kepolisian untuk transparan dalam hal kelanjutan proses hukum pengemudi BMW maut.
Editor :
Inggried Dwi Wedhaswary
info
14.38

SEJUMLAH KEJANGGALAN DI BALIK INSIDEN BMW MAUT

JAKARTA, KOMPAS.com — Sebuah kecelakaan maut terjadi di Km 3+350 Tol Jagorawi, Selasa (1/1/2013) pagi. Sebuah mobil BMW X5 B 272 HR jenis SUV menabrak angkutan umum berpelat hitam Daihatsu Luxio F 1622 CY di lajur satu dan dua ruas tol tersebut. Peristiwa itu mengakibatkan dua orang tewas, yaitu Muhammad Raihan (1,5) dan seorang kakek dua cucu bernama Harun (57). Sementara tiga orang mengalami luka-luka, yakni Supriyati (35), Enung (30), dan Ripal (8). Ketiganya menjalani perawatan intensif. Korban tewas adalah penumpang Luxio yang memiliki jalur trayek UKI-Bogor.

Namun, saat wartawan ingin mengonfirmasi peristiwa ini, ada sejumlah kejanggalan yang ditemui. Pihak terkait, baik kepolisian maupun Jasa Marga, terkesan menutup-nutupi informasi kecelakaan ini. Belakangan, diketahui, pengemudi BMW adalah adalah Muhammad Rasyid Amirulloh Rajasa, putra Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa.

Saling lempar

Kejanggalan pertama ialah ketika mencoba mengonfirmasi kepada Kepala Satuan Patroli Jalan Raya Polda Metro Jaya AKBP Jazari. Menurut Jazari, kasus kecelakaan tersebut tidak ditangani oleh pihaknya, tetapi oleh Satuan Lalu Lintas Wilayah Jakarta Timur karena masih berada di area Jakarta Timur. Namun, saat dikonfirmasi ke Kepala Satuan Lalu Lintas Wilayah Jakarta Timur AKBP Soepoyo, informasi pun tak kunjung didapat. Menurutnya, kasus kecelakaan tersebut ditangani oleh Polda Metro Jaya, mengingat lokasi kecelakaan berada di dalam tol atau istilah yang biasa digunakan yakni "dalam pagar". Konfirmasi pun mentok.

Hal serupa juga terjadi saat para wartawan hendak mengonfirmasi hal tersebut ke pihak terkait lainnya, yakni Traffic Management Center (TMC) Polda Metro Jaya yang sebelumnya aktif dalam menginformasikan peristiwa kecelakaan di jalan, baik dalam kota maupun luar kota. Demikian juga Kepala Unit Patroli Jalan Raya Jagorawi, pejabat yang seharusnya mengetahui segala peristiwa yang terjadi di wilayah tugasnya.

Disembunyikan?


Kejanggalan lain yang ditemukan adalah ketika mencoba mengonfirmasi peristiwa kecelakaan kepada petugas call center Jasa Marga. Call Center Jasa Marga juga merupakan sarana untuk mengetahui berbagai peristiwa di dalam tol. Winda, salah satu petugas, kala itu tak menyebutkan dua huruf pelat nomor mobil yang dikemudikan oleh putera menteri tersebut. Menurutnya, Jasa Marga hanya mendapatkan informasi di lapangan bahwa pelat mobil BMW maut tersebut adalah B 272. Padahal, pelat nomor aslinya, yakni B 272 HR. Dua huruf, HR pada pelat mobil mewah itu cukup identik dengan inisial sang ayah, Hatta Rajasa. Terlebih, ia tak menyebutkan pengemudi BMW maut itu.

Keluarga diminta berdamai

Ifan (37), menantu Harun, salah seorang korban tewas, mengaku menemukan kejanggalan dalam kasus kecelakaan yang menimpa ayahnya. Menurutnya, setelah insiden kecelakaan, beberapa polisi berseragam mendatangi rumahnya di Perum I Tangerang, Banten, untuk menyampaikan kabar duka. Yang dinilai aneh, pihak yang mengaku dari Polda Metro Jaya itu meminta keluarga untuk damai dan tidak memperpanjang kasus kecelakaan itu. Bahkan, menurut Ifan, keluarga tidak diberi tahu mengenai kronologi kecelakaan yang menyebabkan sang ayah meninggal dunia tersebut.

Para polisi tersebut hanya meminta keluarga untuk segera mengambil jasad Harun dan segera memakamkannya dengan biaya seluruhnya ditanggung oleh pihak penabrak. Pihak utusan tersebut pun diketahui terus mendampingi keluarga korban, baik keluarga Harun maupun keluarga Raihan, sejak datang di Rumah Sakit Polri Bhayangkara Raden Said Sukanto. Beberapa di antaranya juga sempat melarang wartawan mewawancarai keluarga korban tanpa alasan yang jelas.

Mengaku keluarga, menolak otopsi

Sebuah kejadian janggal juga sempat terjadi di kantor administrasi ruang jenazah RS Polri. Salah seorang dari pihak utusan tersebut datang ke kantor administrasinya dan meminta kepada petugas untuk tidak melakukan otopsi terhadap tubuh korban. Namun, hal tersebut ditolak oleh pihak administrasi dengan alasan surat tersebut harus berasal dari keluarga resmi. Usahanya mentok, pria tegap yang mengenakan topi, berbaju abu-abu, dan celana loreng-loreng tersebut pun pergi. Pertanyaan yang diberikan sejumlah wartawan tak digubrisnya.

Pria yang belum sempat diketahui namanya itu diketahui kembali menemui pihak keluarga korban. Sejumlah kejanggalan lainnya juga mewarnai seluruh proses kasus tersebut, antara lain keberadaan pengemudi BMW yang terkesan disembunyikan serta penetapan status kepada pengemudi oleh pihak kepolisian. Seluruh hal tersebut menjadi sorotan mengingat pada kasus kecelakaan sebelumnya. Polisi tampak sangat sigap untuk melanjutkan proses hukumnya. Kini, korban tewas sudah dibawa ke rumahnya masing-masing. Jenazah Harun telah dibawa ke rumah saudara di daerah Jembatan Besi, Jakarta Barat, untuk selanjutnya dimakamkan di kampung halamannya di Serang, Banten.

Sementara itu, jenazah Raihan juga telah dibawa dan akan dimakamkan di rumahnya, Sukabumi, Jawa Barat. Keluarga korban berharap kasus kecelakaan maut tersebut terang benderang dan tidak ditutup-tutupi. Keluarga juga berharap kepada pihak kepolisian untuk transparan dalam hal kelanjutan proses hukum pengemudi BMW maut.
Editor :
Inggried Dwi Wedhaswary
info
14.37

POLISI TAK BOLEH BERI PERLAKUAN KHUSUS KEPADA PUTRA HATTA RAJASA

JAKARTA, KOMPAS.com — Aparat kepolisian diminta untuk menerapkan prinsip kedudukan semua orang sama di hadapan hukum dalam penanganan kasus kecelakaan maut yang melibatkan Rasyid Rajasa, putra Menko Perekonomian Hatta Rajasa. Peristiwa kecelakaan antara BMW B 272 HR yang dikemudikan Rasyid dengan Daihatsu Luxio F 1622 CY telah mengakibatkan dua orang meninggal dunia.

"Terkait dengan penegakan dan proses hukum atas peristiwa ini, saya rasa Polri akan profesional dan tidak akan ragu dalam memproses kasus yang melibatkan putra Hatta Rajasa tersebut," ujar anggota Komisi Hukum DPR, Indra, Rabu (2/1/2013) pagi.

Salah satu prinsip utama dalam penegakan hukum, tegasnya, adalah equality before the law (semua sama di mata hukum) siapa pun pelakunya. "Saya yakin Polri maupun keluarga besar Pak Hatta Rajasa memahami prinsip tersebut," katanya.

Menurutnya, tingginya perhatian media terhadap peristiwa ini akan membuat polisi bekerja sesuai prosedur. Polisi diharapkan bisa menyampaikan perkembangan kasus ini secara gamblang.

Seperti diberitakan sebelumnya, dua orang tewas dalam kecelakaan yang terjadi pada Selasa (1/1/2013) pagi, pukul 05.45 WIB. Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto, Selasa siang, mengungkapkan, Daihatsu Luxio F 1622 CY yang dikemudikan Frans Joner Sirait (37) ditabrak dari belakang oleh BMW B 272 HR yang dikemudikan M Rasyid Amrullah Rajasa (22), anak bungsu Hatta Rajasa. Dari hasil pemeriksaan awal terhadap para saksi dan penelitian di lokasi kejadian, kecelakaan terjadi karena pengemudi BMW B 272 HR, yang mobilnya melaju dari arah utara ke selatan di lajur 3, mengantuk. Akibatnya, BMW menabrak Daihatsu Luxio F 1622 CY dari belakang. Dua korban tewas dalam kecelakaan itu adalah Harun, warga Cibodas Sari, Tangerang, dan M Raihan (14 bulan), asal Mekarjaya, Sukabumi. Tiga orang yang luka-luka dan dibawa ke RS Polri adalah Nung (30) dan Moh Rifan. Seorang lagi dibawa ke RS UKI, yakni Supriyati (30).
Editor :
Inggried Dwi Wedhaswary
info
14.34

TANGANI KASUS ANAK MENTERI, KEBERANIAN POLISI DIUJI

JAKARTA, KOMPAS.com - Kasus kecelakaan maut yang melibatkan Rasyid Amirulloh Rajasa (22), anak Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa, menjadi ujian bagi Kepolisian dalam penghormatan terhadap asas equality before the law atau persamaan di hadapan hukum. Hal itu dikatakan Anggota Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Eva Kusuma Sundari ketika dihubungi, Rabu ( 2/1/2013 ), menyikapi kecelakaan maut di Km 3,5 Tol Jagorawi, Selasa (1/1/2013) pagi.

Mobil BMW X5 jenis SUV yang dikemudikan Rasyid menabrak angkutan umum pelat hitam Daihatsu Luxio. Tabrakan itu mengakibatkan dua orang tewas, yakni Muhammad Harun (1,5) dan Harun (57). Tiga orang lain terluka, yakni Supriyati (35), Enung (30), dan Ripal (8).

Eva mengatakan, memori masyarakat belum hilang terkait penanganan kasus kecelakaan maut di Tugu Tani, Jakarta Pusat, pada Januari 2012 . Afriani Susanti (29), pengemudi mobil Daihatsu Xenia langsung diperiksa seusai menabrak hingga sembilan orang tewas. Sorenya, Kepolisian langsung menetapkan Afriani sebagai tersangka lalu ditahan.

"Yang terbaik bagi polisi adalah menunjukkan SOP standar penanganan agar polisi tidak dikecam diskriminatif dan Hatta tidak dituduh intervensi dalam penegakan hukum," kata politisi PDI Perjuangan itu.
Eva menambahkan, itikad baik dari Hatta terhadap keluarga korban juga tidak bisa menghentikan perkara. Pasalnya, kata dia, telah terjadi kelalaian yang mengakibatkan hilangnya nyawa orang lain seperti diatur dalam Pasal 359 KUHP.
"Jadi, pidana harus jalan terus. Laksanakan penanganan secara adil, transparan, dan akuntabel," pungkas Eva.

Seperti diberitakan, Hatta mengaku akan bertanggungjawab dan terus memberi perhatian lebih kepada keluarga korban. Dia juga berkali-kali menyampaikan permohonan maaf dan duka mendalam atas kecelakaan itu. Ketua Umum DPP Partai Amanat Nasional itu juga sudah menemui keluarga korban.
Hanya saja, Kepolisian maupun Jasa Marga terkesan menutup-nutupi informasi kecelakaan itu.

Berita terkait dapat diikuti dalam topik:
Insiden BMW Maut di Tol Jagorawi

Editor :
Inggried Dwi Wedhaswary
info