FB Tweet Group
TOLONG!!! Jangan KLIK INI !!!

artis, selebritis, properti, rumah, apartemen, penthouse, landed house, villa, mobil, tanah, pendidikan, motor, anjing

Halaman

About

My Ping in TotalPing.com
Diberdayakan oleh Blogger.

artikel terbaru

Search

11.50

Di JAKARTA, 17 PENYANDANG DISABILITAS IKUT SBMPTN

les privat jakarta, depok, bekasi, bogor, tangerang

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Jendral Direktorat Pendidikan Tinggi Kementrian Pendidikan, Djoko Santoso mengatakan, dalam pelaksanaan Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2013, ada 17 orang penyandandang cacat (disabilitas) yang juga mengikuti ujian tersebut. Ke-17 orang tersebut merupakan peserta ujian yang mendaftar untuk lokasi ujian DKI Jakarta.

"Semua peserta ujian yang menyandang disabilitas yang mengikuti ujian SBMPTN, melangsungkan ujian di Universitas Indonesia," kata Djoko, saat meninjau salah satu lokasi ujian SBMPTN di SMA Labschool Kebayoran, Selasa (18/6/2013).

Dari 17 orang tersebut, sebanyak empat orang diantaranya mendaftar sebagai peserta ujian IPA. Mereka terdiri dari penyandang tuna netra dan tuna daksa masing-masing satu orang, dan dua orang penyandang tuna rungu.

Sedangkan 13 orang lainnya, mendaftar sebagai peserta ujian IPS. Mereka terdiri dari 6 orang penyandang tuna netra, 5 orang penyandang tuna rungu dan 2 orang penyandang tuna daksa.

"Tahun ini tidak ada penyandang disabilitas yang mengikuti ujian campuran," ujarnya.

Secara keseluruhan, peserta ujian SBMPTN 2013 di Jakarta mencapai 44.165 peserta. Jumlah tersebut lebih sedikit dari target peserta yang ditentukan yaitu sebanyak 60.000 peserta.

Dari 44.165 peserta ujian yang mendaftar, sebanyak  17.713 peserta mendaftar untuk ujian IPA, 22.755 peserta ujian IPS dan 3.697 pesera ujian IP Campuran. Sementara, pelaksanaan ujian ini sendiri akan dilaksanakan di 104 SMA/MA dan SMK yang tersebar di wilayah Jakarta dan Depok.
 
Editor : Caroline Damanik
info sbmptn
11.47

PATAH TANGAN, PESERTA SBMPTN DIBANTU MENULIS

les privat jakarta, depok, bogor, bekasi, tangerang

JEMBER, KOMPAS - Panitia pengawas ujian Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) di Universitas Negeri Jember membantu menuliskan jawaban dua peserta ujian, Imas Putri dan Ines Kurnia Sandy, Selasa 918/6/2013). Kedua peserta ujian itu tidak bisa menulis akibat kecelakaan lalu lintas yang mereka alami.

Imas Putri, calon mahasiswa Fakultas Kedokteran Unversitas Jember mengalami kecelakaan ketika hendak menghindari penyeberang jalan di Kecamatan Balung. "Ia pagi itu sedang dalam perjalanan dari rumahnya di Kecamatan Wuluhan ke Universitas Jember untuk mengikuti ujian SBMPTN," kata Rokhani, Kepala Bagian Humas Univeritas Jember.

Selain, Imas petugas di ruang ujian gedung Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan juga harus dibantu peserta lainnya, Ines Kurnia Sandy. Ia tangan kanannya patah akibat kecelakaan yang dialaminya beberapa waktu lalu.

Untuk menulis jawaban soal pada lembar jawaban yang diujikan, ia juga dibantu oleh pengawas ujian di lokasi itu. "Kami bantu agar semua peserta ujian masuk pergutuan tinggi melalui SBMPTN kita bantu sepenuhnya. Mereka membaca soal dan memberi peruntah kepada petugas untuk menuliskannya di lembar jawaban, kata Rokhani.

Ujian SBMPTN di Universitas Jember diikuti sebanyak 8.866 peserta. Mereka diawasi oleh sekitar 982 orang pengawas.


Editor : Kistyarini
info sbmptn
11.41

BBM NAIK, PEMERINTAH AKAN NAIKKAN ANGGARAN BEASISWA

les privat jakarta, depok, bogor, bekasi, tangerang

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah akan menambah anggaran beasiswa untuk siswa miskin di tahun ajaran 2013. Penambahan beasiswa itu akan diberlakukan setelah harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dinaikkan.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M Nuh mengatakan, pemerintah menyiapkan anggaran sekitar Rp 6 triliun untuk beasiswa sekitar 13,5 juta pelajar di tahun 2013 . Data tersebut, kata dia, berasal dari survei Badan Pusat Statistik (BPS) dan data Kemendikbud.

Nuh menjelaskan, di tingkat SD akan mendapat Rp 450 ribu per anak dari sebelumnya Rp 360 ribu. Tingkat SMP sederajat akan mendapat Rp 750 ribu per anak dari sebelumnya Rp 500 ribu. Adapun tingkat SMA sederajat akan mendapat Rp 1 juta per anak dari sebelumnya Rp 700 ribu.

Nuh menambahkan, kemungkinan akhir Juli 2013 beasiswa bisa dicairkan dengan Kartu Perlindungan Sosial. Penerima beasiswa dapat mencarikan beasiswa di kantor pos. Pihak kantor pos bisa juga mendatangi sekolah dan menyerahkan langsung kepada anak.

"Uang itu langsung ke anak. Dulu pernah sekolah yang ambil, tapi dipotong untuk sedekah," kata Nuh di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa ( 18/6/2013 ).

Namun, lanjut Nuh, pencarian akhir Juli nanti baru bisa untuk penerima beasiswa yang sudah terdata. Khusus untuk siswa kelas 1 SD belum bisa menerima lantaran masih perlu didata siapa saja yang berhak menerima. Pendataan akan dilakukan ketika tahun ajaran baru dimulai.

"Untuk data siswa kelas 1 SD baru diketahui pertengahan Juli. Jadi kemungkinan minggu pertama atau ke dua Agustus baru bisa dicaikan untuk kelas 1," pungkas Nuh.
 
 
Editor : Caroline Damanik
info beasiswa
11.36

INI 12 SISWA PERAIH NILAI UN SMP TERTINGGI

 les privat jakarta, depok, tangerang, bekasi, bogor

JAKARTA, KOMPAS.com — Pada ujian nasional (UN) kali ini, siswa dari Jakarta berhasil mengungguli tiga juta siswa para peserta UN beberapa waktu lalu. Dengan nilai rerata UN murni 9,90, Stella Angelina berhasil menjadi siswa dengan nilai rerata UN murni tertinggi se-Indonesia.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh mengungkapkan apresiasinya pada prestasi yang diraih oleh siswa asal Jakarta ini. Pihak Kemendikbud juga telah menyiapkan penghargaan serta beasiswa untuk para siswa berprestasi ini

"Kami tentu akan berikan penghargaan dan beasiswa bagi para siswa yang berprestasi ini. Nantinya mereka juga akan dimudahkan akses untuk ke SMA/SMK/MA," kata Nuh saat jumpa pers Hasil UN SMP/MTs di Gedung A Kemendikbud, Jakarta, Jumat (31/5/2013).

Berikut 12 nama siswa yang berhasil menjadi siswa dengan nilai rerata UN murni terbaik tahun ini:

1. Stella Angelina dari SMP Kasih Karunia Jakarta (9,90).
2. Petra Julian Abigail dari SMP Tarakanita 4 Jakarta (9,90).
3. Anak Agung Ayu Vira Sonia dari SMP Negeri 1 Denpasar (9,90).
4. Jessica Jane dari SMP Kristen 1 BPK Penabur Jakarta (9,89).
5. Shofiya Qurrotu'ayunin dari MTs Negeri 1 Malang (9,85).
6. Cahaya Carla Bangsawan dari SMP Negeri 2 Bandar Lampung (9,85).
7. Kirana Widiani Lestari dari SMP Negeri 85 Jakarta (9,84).
8. Setiati Nur Chasanah dari SMP Negeri 1 Magelang (9,84).
9. Maratus Solichah dari SMP Negeri 1 Salaman ( 9,84).
10. Farrel Gerard Adeovinson Rey dari SMP Masehi Temanggung (9,84).
11. Juligo Al Paraby Saragih SMP Swasta Al-Muslimin Pandan Tapanuli (9,84).
12. Biani Masita Himawan dari SMP Negeri 1 Denpasar (9,84).
Editor : Caroline Damanik
info uan, un
11.32

PAK DOE, "PAHLAWAN TANPA TANDA JASA" SUNGGUHAN...

les privat jakarta, depok, bogor, bekasi

KOMPAS.com — Bagi Ratih Dwiastuti, Pak Doe adalah sosok guru yang menjadi panutan. Menurut Pak Doe, guru adalah seorang pemimpin yang memimpin dengan karakter.

Demikian pulalah dia. Pak Doe menerapkan pendidikan berkarakter jauh sebelum slogan-slogan karakter ditempelkan di kurikulum. Pak Doe, menurut Ratih, tetap menerapkan pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan meski dengan sederhana.

Aura kepemimpinan dan semangat mendidiknya yang tinggi ditunjukkan dengan menyentuh langsung kehidupan setiap siswanya. Ratih pun melihat bahwa menjadi guru bukan sekadar rencana pelaksanaan pembelajaran, melainkan juga karakter dan kepemimpinan dalam interaksi dengan para siswa.

Berikut catatan Ratih ketika menjadi pengajar muda di SDN 4 Langkahan, Aceh Utara. Ratih menemukan "pahlawan tanpa tanda jasa" sungguhan....



"One of The Avangers Langkahan"

Sosoknya memancarakan kesederhanaan dan wibawa yang elegan. Gaya berbicaranya santun, baik itu berbahasa aceh maupun berbahasa indonesia. Ditakuti atau lebih tepatnya disegani oleh mayoritas siswa di sekolahku. Karenanya beliau dipercaya memegang amanah bagian kesiswaan. Beliau adalah orang pertama yang hingga terminal terdekat menuju kota ketika awal-awal penempatan. Bapak Abdurrahman namanya. Pak Doe adalah panggilan akrabnya sehari-hari. Usianya sudah tidak bisa dibilang muda jika dibandingkan dengan guru lain di sekolahku. Ketika konflik sedang di puncaknya, Pak Doe menjabat sebagai geuchik (kepala desa) selama 6 tahun (1999-2005). Hingga sekarang beliau masih disegani dan dihormati oleh masyarakat. Bahkan geuchik penggantinya kerap kali berkonsultasi dengannya. Beliau sudah mulai mengajar ketika konflik. Pernah suatu kali beliau bercerita mengenai beberapa pengalamannya.

Ketika konflik sangat jarang guru yang mau mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia dan PPKN. Ketika itu Pak Doe memberanikan diri untuk mengajar kedua mata pelajaran tersebut di SMP Negeri 3 Langkahan (saat itu statusnya masih SMP persiapan, belum menjadi SMP negeri). Di tengah-tengah aktivitas mengajarnya, suatu kali beliau pernah disambangi oleh masyarakat yang tergabung dalam Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Beliau ditanya apakah mengajarkan Bahasa Indonesia dan pancasila atau unsur nasionalisme kepada anak didiknya. Kemudian beliau menjawabnya dengan sangat bijak dan sangat benar menurutku.

“Saya tidak mengajarkan nasionalisme. Saya mengajarkan karakter kebangsaan dan bertata negara. Kalaupun nantinya Aceh merdeka, anak-anak kita perlu tahu juga bagaimana caranya bernegara. Begitu juga dengan Bahasa Indonesia. Jangan sampai anak-anak kita hanya tahu ‘bahasa ibu’ saja. Ketika suatu hari ia merantau, maka tidak kesulitan lagi untuk berkomunikasi.”

Masyarakat GAM pun langsung memahami dan tidak terjadi masalah berkepanjangan. Menurutnya kurikulum berkarakter yang saat ini sedang in di Indonesia, sebenarnya sudah diterapkan sejak lama, hanya saja belum ada label ‘kurikulum berkarakter’.

Beliau juga pernah menjelaskan kepadaku tentang arti “pendidikan berkarakter”. Beliau menganalogikan bahwa mengajar tidak berbeda dengan memimpin. Ketika menjadi geuchik, beliau harus memahami karakter masyarakatnya. Begitu juga dengan mengajar. Beliau berusaha memahami karakter setiap siswanya sehingga bisa melakukan pendekatan dengan cara yang sesuai. Ada siswa yang harus ditindak keras, ada siswa yang harus ditindak secara halus. Selama ini para guru dibuat pusing dengan kurikulum yang berubah-ubah dan berlabel ‘berkarakter’. Tanpa ada label pun, Pak Doe sudah menerapkannya. Bahkan tanpa RPP, tanpa peraturan resmi dari pemerintah, beliau sudah menerapkannya.

Soal kreativitas pun tidak diragukan lagi. PAIKEM yang sedang gencar-gencarmya dikampanyekan, beliau pun menerapkannya. Berikut beberapa contoh dari penerapan PAIKEM di kelasnya.

Gambar tersebut merupakan hasil karya siswa di kelasnya untuk mata pelajaran IPA mengenai gaya dan faktor-faktor yang mempengaruhi perbedaan bunyi. Pernah juga beliau meminta siswanya untuk membuat simulasi alat peraga lain namun aku tidak sempat mendokumentasikannya, atnara lain miniatur parasut menggunakan kantong plastik hitam, benang, dan tali. Lagu-lagu pun kerap kali beliau ajarkan kepada anak didiknya.

Semangat mendidiknya tinggi. Beliau pernah pula bercerita mengenai pengalaman mendidiknya. Ketika belum memiliki sepeda motor, beliau mengayuh sepeda sejauh 3 KM di jalan berbatu untuk mengajar. Sehingga jika ada guru yang mengeluhkan jarak sekarang, beliau pun bisa menjawab, karena mayoritas guru sekarang sudah bermotor. Ketika sudah memiliki motor, beliau pernah menyambangi siswa yang tidak mau ikut ujian nasional. Rumah siswa tersebut bukan lagi di desa tempat sekolahku berada. Rumah siswa tersebut sudah pindah ke Aceh Timur (sekitar 30 KM dari rumah beliau). Beliau meyakinkan orang tuanya dan siswanya bahwa dengan mengikuti ujian nasional, itu sudah membuka celah untuk masa depan siswa tersebut dan keluarganya.Setelah beberapa kali dibujuk, akhirnya orang tua siswa menizinkan untuk tinggal sementara di rumah guru yang letaknya satu desa dengan sekolah dan mau mengikuti ujian nasional.

Aku simpulkan bahwa konsep teacher menurut Pak Doe adalah a leader who lead with character. Menerapkan pendidkan berkarakter, PAIKEM, serta memiliki aura kepemimpinan yang baik, membuat dirinya guru ideal di mataku. Beliau bukan PNS yang berpangkat paling tinggi, tetapi beliau selalu bersedia untuk mendidik siswa. Mulai dari mengajar di kelas, pembinaan, hingga mendampingi siswa ketika mengikuti olimpiade. Kualitas guru Indonesia tidak bisa dipukul rata ‘jelek’ atau ‘bagus’. Masih banyak sosok Pak Doe lainnya di negeri ini. Layaknya  para superhero dalam The Avangers, para pahlawan tanpa tanda jasa ini pun tersebar dimana-mana, tanpa terlihat oleh masyarakat umum.

 
Sumber : Blog Pengajar Muda Indonesia Mengajar
Editor : Caroline Damanik
info
11.29

MISTERI PELAKSANAAN SERTIFIKASI GURU

les privat jakarta, depok, bogor, bekasi

Pada 14 Maret 2013, Bank Dunia meluncurkan publikasi: ”Spending More or Spending Better: Improving Education Financing in Indonesia”. Publikasi itu menunjukkan, para guru yang telah memperoleh sertifikasi dan yang belum ternyata menunjukkan prestasi yang relatif sama.

Program sertifikasi guru yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan selama beberapa tahun terakhir ternyata tidak memberi dampak perbaikan terhadap mutu pendidikan nasional. Padahal, penyelenggaraannya telah menguras sekitar dua pertiga dari total anggaran pendidikan yang mencapai 20 persen APBN (hal 68). Pada 2010, sebagai contoh, biaya sertifikasi mencapai Rp 110 triliun!

Kesimpulan Bank Dunia itu diperoleh setelah meneliti sejak 2009 di 240 SD negeri dan 120 SMP di seluruh Indonesia, dengan melibatkan 39.531 siswa. Hasil tes antara siswa yang diajar guru yang bersertifikasi dan yang tidak untuk mata pelajaran Matematika, Bahasa Indonesia, serta IPA dan Bahasa Inggris diperbandingkan. Hasilnya, tidak terdapat pengaruh program sertifikasi guru terhadap hasil belajar siswa, baik di SD maupun SMP.

Tiga implikasi

Publikasi Bank Dunia tersebut bagai tumpukan misteri yang mengingatkan saya pada film dokumenter An Inconvenient Truth (2006) yang disutradarai Davis Guggenheim.

Film ini mengisahkan kerisauan mantan Wapres (AS) Al Gore atas realitas-realitas berbahaya terhadap pemanasan global yang memerlukan tanggung jawab semua pihak. Analog dengan film dokumenter itu, publikasi Bank Dunia ini memuat begitu banyak realitas berbahaya bagi masa depan bangsa yang perlu pembenahan secepatnya.

Bertolak dari temuan Bank Dunia tersebut, kelihatannya terdapat tiga implikasi penting yang mendesak dibenahi. Pertama, bagaimana menghilangkan pola formalitas penyelenggaraan program sertifikasi guru.

Program ini sesungguhnya tuntutan yang diamanatkan UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, yang mewajibkan seluruh guru disertifikasi dan diharapkan tuntas sebelum 2015. Upaya ini semata-mata dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan profesional guru, yang selanjutnya akan berdampak pada peningkatan mutu pendidikan nasional secara keseluruhan.

Sejak 2005, guru-guru telah diseleksi untuk mengikuti program sertifikasi berdasarkan kualifikasi akademik, senioritas, dan golongan kepangkatan, seperti harus berpendidikan S-1 dan jumlah jam mengajar 24 jam per minggu. Indikator ini digunakan untuk memperhatikan kompetensi pedagogis, kepribadian, sosial, dan emosional mereka.

Sejak itu, sekitar 2 juta guru telah disertifikasi, baik melalui penilaian portofolio pengalaman kerja dan pelatihan yang telah diperoleh ataupun melalui pendidikan dan latihan profesi guru (PLPG) selama 90 jam. Para guru yang telah lulus disebut guru bersertifikasi dan berhak mendapatkan tunjangan profesi sebesar gaji pokok yang diterima setiap bulannya. Pemerintah telah mencanangkan, pada 2015 hanya guru yang bersertifikasi yang diperbolehkan mengajar.

Dengan target tersebut, penyelenggaraan sertifikasi guru kelihatannya telah dipersepsikan sebagai proyek besar yang keberhasilannya diukur secara kuantitatif sesuai target. Akibatnya, proses pelaksanaannya mudah terbawa ke kebiasaan formalitas birokrasi yang ada.

Kedua, bagaimana mengaitkan program sertifikasi guru dengan pembenahan mekanisme pengadaan dan perekrutan calon guru di perguruan tinggi lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK). Sesuai amanat UU, LPTK adalah perguruan tinggi yang diberi tugas menyelenggarakan program pengadaan guru pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan/atau pendidikan menengah, serta untuk menyelenggarakan dan mengembangkan ilmu kependidikan dan nonkependidikan. Namun, pasca- konversi Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan jadi universitas, perhatian mereka sebagai LPTK tidak lagi terfokus ke penyiapan guru, tetapi lebih tergoda ke orientasi non-kependidikan.

Akibatnya, tugas-tugas penyelenggaraan sertifikasi yang dibebankan kepada sejumlah LPTK tak tertangani maksimal. Bahkan, peran dalam penyiapan calon guru tak lagi didasarkan atas perencanaan yang lebih sistemis dan komprehensif.

Meski secara kuantitatif Indonesia adalah salah satu negara dengan jumlah guru terbanyak di dunia, diukur dari rasio guru-siswa, tetapi perekrutan mahasiswa calon guru, terutama di LPTK swasta, seakan tanpa kendali. Studi UNESCO (UIS-2009) menunjukkan, untuk jenjang SD rasio guru-siswa adalah 1:16,61, yang berarti seorang guru hanya mengajar 16-17 siswa. Rasio ini jauh lebih rendah dibandingkan Jepang (18,05), Inggris (18,27), bahkan Singapura (17,44). Secara internasional, rata-rata di seluruh dunia rasionya adalah 1:27,7 atau seorang guru dengan 27-28 siswa. Keadaan serupa juga terjadi di jenjang pendidikan menengah.

Ketiga, bagaimana menyelenggarakan program sertifikasi guru agar lebih berbasis di kelas. Selama ini mereka yang mengikuti PLPG kelihatannya tidak dirancang untuk mengamati kompetensinya mengajar di kelas. Proses sertifikasi guru berjalan terpisah dengan peningkatan mutu proses belajar-mengajar di kelas. Akibatnya, penyelenggaraan program sertifikasi guru tersebut tidak berdampak pada peningkatan mutu secara keseluruhan.

Data menunjukkan, pada 2011, TIMMS (studi internasional tentang matematika dan IPA) melaporkan, untuk matematika skor Indonesia 386, tak jauh beda dengan Suriah (380), Oman (366), dan Ghana (331). Sementara untuk IPA, Indonesia (406) tak jauh beda dengan Botswana (404) dan Ghana (306). Selanjutnya, studi PISA (program penilaian siswa internasional untuk matematika, IPA, dan membaca) pun menunjukkan Indonesia selalu berada pada urutan kelompok terendah di dunia (hal 11).

Fokus ke PBM di kelas

Saya teringat ketika membantu UNESCO sebagai konsultan di Asia-Pasifik pada 1993-1994, ketika mengunjungi Manabo yang berjarak sekitar 300 kilometer dari Manila. Guru-guru di pedesaan sana ternyata akan memperoleh tambahan insentif jika mereka secara nyata berinovasi meningkatkan mutu proses belajar-mengajar (PBM) di kelas.

Cara mengukurnya sederhana. Pengawas atau penilik sekolah cukup mengamati kegiatan PBM secara berkala; apakah terdapat persiapan yang memadai atau tidak, apakah ada media belajar sebagai kreasi inovatif guru atau tidak, dan seterusnya. Pembinaan kesejahteraan dan promosi karier para guru dilakukan dengan berbasiskan pada kinerja dalam meningkatkan kualitas PBM-nya.

Akhirnya, meski penyelenggaraan sertifikasi guru telah berdampak positif terhadap peningkatan kesejahteraan guru, yakni dapat menurunkan jumlah guru yang kerja rangkap secara drastis dari 33 persen sebelum sertifikasi ke 7 persen sesudah sertifikasi (hal 73), perubahan apa pun yang dilakukan, kurikulum apa pun yang diberlakukan, dan kebijakan apa pun yang hendak diambil, jika tak menyentuh perbaikan proses belajar-mengajar di kelas, hasilnya akan sia-sia.


Hafid Abbas Guru Besar Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Jakarta
 
Sumber : Kompas Cetak
Editor : Caroline Damanik
11.25

LEWAT SBMPTN, HANYA 90.000 MAHASISWA YANG AKAN DITERIMA

 les privat jakarta, depok, bekasi, bogor

JAKARTA, KOMPAS.com — Jumlah peserta yang mendaftarkan diri sebagai peserta Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2013 mencapai angka 590.000 orang. Sementara itu, jumlah mahasiswa yang akan diterima melalui jalur masuk itu hanya 90.000 orang.

Hal itu dikatakan Direktur Jenderal Direktorat Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Djoko Santoso saat meninjau salah satu lokasi ujian SBMPTN di SMA Labschool Kebayoran, Jakarta, Selasa (18/6/2013).

"Lebih kurang 90.000 yang akan diterima. Perbandingannya sekitar 1:6 antara yang diterima dan tidak," kata Djoko kepada wartawan.

Pelaksanaan ujian itu sendiri, dikatakan Djoko, akan dilangsungkan selama dua hari, yaitu mulai pada hari ini dan akan berakhir besok, Rabu (19/6/2013). Untuk ujian hari pertama, yang akan diujikan adalah Tes Potensi Akademik (TPA) dan Tes Kemampuan Dasar Umum (TKDU). TKDU terdiri dari mata pelajaran Matematika Dasar, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris.

Untuk tes hari kedua, Djoko mengatakan bahwa semua peserta akan mengikuti Tes Kemampuan Dasar (TKD). Yang diujikan untuk peserta IPA TKD yaitu Biologi, Fisika, Kimia, dan Matematika Dasar. Adapun TKD yang diujikan untuk peserta IPS yaitu Sejarah, Ekonomi, Geografi, dan Sosiologi.

"Bagi peserta SBMPTN yang memilih program studi Ilmu Seni dan Keolahragaan akan mengikuti ujian keterampilan yang diselenggarakan pada 20 dan 21 Juni 2013," ungkapnya.

Hingga saat ini, pelaksanaan SBMPTN 2013 berlangsung baik. Belum ada satu pun laporan kecurangan ataupun kendala yang diterima oleh panitia pelaksana di tingkat pusat.

"Alhamdulillah laporan dari seluruh Indonesia untuk pelaksanaan SBMPTN 2013 berjalan dengan baik," kata Ketua Umum Panitia SBMPTN 2013 Akhmaloka.

Editor :
Caroline Damanik
info sbmptn