FB Tweet Group
TOLONG!!! Jangan KLIK INI !!!

artis, selebritis, properti, rumah, apartemen, penthouse, landed house, villa, mobil, tanah, pendidikan, motor, anjing

Halaman

About

Diberdayakan oleh Blogger.

artikel terbaru

Arsip Blog

Search

10.07

UKG SUSULAN JUGA BERANTAKAN

JAKARTA, KOMPAS.com - Uji Kompetensi Guru (UKG) susulan atau UKG gelombang ketiga bergulir dan nasibnya tak jauh beda dengan penyelenggaraan dua gelombang UKG sebelumnya. Menurut Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Retno Listiarti, pelaksanaannya masih menunjukkan banyak persoalan.

Retno menjelaskan, FSGI telah mendirikan kembali posko pengaduan UKG ketiga yang tersebar di beberapa daerah untuk menghimpun laporan dari para peserta UKG ketiga. Hingga Selasa (13/11/2012) malam, tercatat setidaknya ada puluhan guru yang telah mengikuti UKG di gelombang pertama dan kedua tetapi mendapatkan lagi undangan untuk mengikuti ujian.

"Posko pengaduan UKG sudah tutup pada 2 November 2012 lalu, tetapi hingga Senin (5/11/2012) tiba-tiba muncul laporan tertulis dari beberapa daerah yang menyatakan para guru tiba-tiba mendapat undangan UKG ketiga. Konon nama mereka tidak dapat diakses dalam database. Ini merupakan indikasi bahwa Kemdikbud benar-benar tidak kompeten menyelenggarakan UKG," katanya kepada Kompas.com, Selasa malam.

Ada beberapa masalah yang berhasiil diidentifikasi dalam UKG ketiga ini. Selain kekeliruan data dimana para guru yang sudah berhasil dalam UKG sebelumnya mendapat undangan kembali, ada para peserta yang juga tidak terdata dalam jaringan data.

Para peserta, lanjut Retno masih banyak yang mendapat undangan sehari sebelum pelaksanaan, bahkan ada yang menerima undangan pagi dan siang hari saat UKG ketiga sedang berlangsung.

"Jadinya banyak guru yang mengikuti UKG ketiga tanpa persiapan lagi. Nilainya hancur lagi. Dan undangan berulang ini, tentu saja sangat merugikan guru yang bersangkutan, mereka di pedalaman butuh waktu dan perjalanan jauh ke lokasi UKG," ungkapnya.

UKG secara daring pun, lanjut Retno, sudah tidak dapat diandalkan lagi di banyak wilayah, terutama di daerah pelosok, seperti Way Kanan (Lampung), Muna, Kolaka, Kolaka Utara, Konawe Utara, Bombana, Buton, Buton Utara, Konawe Selatan dan Wakatobi (Sultra). Kemdikbud akhirnya menggunakan tes UKG secara tertulis.

Sementara itu, masalah yang muncul pada daerah yang menggunakan tes daring, disebut Retno, adalah masalah 'klasik'. Misalnya, ada pilihan jawaban tetapi tidak ada soalnya, pilihan jawaban sama semua, soal merujuk gambar, tabel, bagan namun tidak ada gambar atau tabel yang dimaksud.

Retno juga mengungkapkan bahwa seperti halnya UKG kedua, tak ada juga soal UKG untuk Guru SMK Program Keahlian Teknik Kendaraan Ringan (TKR).  Bahkan, mereka tidak dijadwalkan untuk mengikuti UKG. FSGI menduga, tak ada soal kejuruan TKR karena jumlah gurunya sangat sedikit. 


Editor :
Caroline Damanik
info
10.06

TUNJANGAN GURU TAK KUNJUNG BERES

JAKARTA, KOMPAS.com Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) kembali menuntut Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) untuk segera menengahi karut-marut pencairan Tunjangan Profesi Pendidik (TPP) yang dilakukan oleh pemerintah daerah (pemda). Sekjen FSGI Retno Listyarti mengatakan, sesuai laporan yang diterima pihak FSGI dari berbagai daerah, hingga kini pihaknya masih menemukan modus "penghilangan" TPP oleh birokrasi pendidikan di daerah dengan berbagai alasan.

"Bahkan, Jakarta yang biasa dijadikan barometer bagi daerah-daerah, penyaluran TPP-nya juga tidak beres. Banyak guru yang tidak mendapatkan hak mereka," ungkapnya dalam konferensi pers di kantor ICW, Kalibata, Jakarta Selatan, Kamis (22/11/2012).

Retno juga menyebutkan sejumlah alasan yang kerap dikemukakan pemerintah soal waktu pengajaran bagi guru-guru di sekolah yang masih tidak sesuai dengan mata pelajaran yang didaftarkan saat sertifikasi, dan juga dengan alasan administratif lainnya.

"Ditemukan ada 19 guru yang dipecat dan hingga saat ini masih belum mendapat TPP juga, katanya karena ada sengketa dengan pihak yayasan tempat mereka mengajar," ucapnya.

Ke-19 guru tersebut berasal dari SD Islam Al-Maaruf Jakarta. Soal kasus itu, FSGI menemukan adanya pelanggaran dari Sudin Dikdas Jakarta Timur yang menahan pembayaran TPP 19 guru SD tersebut, padahal para guru telah memenuhi beban kerja selama 24 jam.

Kekisruhan itu, lanjutnya, mulai berlangsung ketika adanya surat pemecatan dari salah satu pengurus yayasan. Ironisnya, meski sudah dipecat, hingga hari ini ke-19 guru itu masih mengajar aktif.

Retno pun menyoroti soal pungutan liar yang kerap terjadi saat guru mengambil TPP mereka. Ia menyebutkan, kisaran uang pungli dapat mencapai Rp 300-Rp 500.000 per guru.

"Mereka tidak bisa berbuat apa-apa dengan adanya pungli tersebut. Kami punya sejumlah data validnya," tegas Retno. 


Editor :
Caroline Damanik
info
10.04

OPTIMAL LATIH GURU 6 BULAN? ITU CUMA SIM SALABIM...

JAKARTA, KOMPAS.com - Terkait dengan implementasi kurikulum baru pada 2013 nanti, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengambil langkah untuk melakukan pelatihan pada guru selama enam bulan sebelum pelaksanaan dengan sistem master teacher. Dengan demikian, guru yang sudah mahir diharapkan menularkan ilmunya dan melatih guru yang lain.

Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Retno Listyarti, mengatakan bahwa pelatihan selama enam bulan saja tidak akan optimal. Semestinya, pemerintah juga melakukan uji coba setelah diadakan pelatihan sehingga dapat terlihat kendala paling besar terjadi pada bagian yang mana.

"Pelatihan selama enam bulan ini saya rasa sim salabim pemerintah saja. Tidak mungkin bisa optimal," kata Retno saat dihubungi, Jumat (7/12/2012).

Ia juga meragukan sistem master teacher yang akan diaplikasikan oleh pemerintah dalam melatih para guru yang nantinya menjadi ujung tombak kelangsungan kurikulum 2013 ini. Meski jumlah yang dilatih hanya berkisar sekitar 350.000 guru, pola master teacher ini dinilai tidak akan efektif dan tepat sasaran.

"Sistemnya master teacher yang ngajarin lagi ke guru lain jadi seperti multilevel gitu, saya rasa sulit kena sasaran," ungkap Retno.

Beberapa waktu yang lalu, anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PPP, Reni Marlinawati, juga menuturkan hal serupa. Pelatihan terhadap guru untuk implementasi kurikulum baru tidak dapat dilakukan secara instans. Guru harus mendapat waktu yang cukup untuk memahami konsep kurikulum baru ini.

"Sosialisasi tentu dibutuhkan. Untuk pembinaan dan pelatihannya paling tidak minimal tiga tahun sehingga saat di lapangan tidak ada kebingungan lagi," ujar Reni.

 
Editor :
Caroline Damanik
info
10.02

FSGI: HARUSNYA KEMENDIKBUD TAK ASAL BIKIN KEBIJAKAN

JAKARTA, KOMPAS.com - Berbagai penelitian internasional selama bertahun-tahun menunjukkan kondisi pendidikan Indonesia semakin memprihatinkan. Meski nilai rata-rata siswa sedikit meningkat pada bidang literasi berdasarkan penelitian lembaga survei pendidikan internasional Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) pada tahun 2011, hasil untuk sains dan matematika justru terus melorot.

Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Retno Listyarti, mengatakan bahwa penurunan kualitas pendidikan ini terjadi karena ada kesalahan pengelolaan pendidikan nasional oleh pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

"Bagaimana kualitas mau tinggi jika kebijakannya seperti ini. Hanya beorientasi pada proyek saja," kata Retno saat jumpa pers Catatan Akhir Tahun 2012 FSGI di Kantor Indonesia Corruption Watch (ICW), Jakarta, Kamis (27/12/2012).

Seperti diketahui, Indonesia berada pada posisi 40 dari 42 negara yang diambil ranking oleh TIMSS untuk Sains pada 2011. Hasil nilai rata-rata juga ikut merosot menjadi 406 dari 427 pada tahun 2007. Sementara untuk matematika, Indonesia berada pada urutan ke-38 dari 42 negara dengan hasil perolehan nilai rata-rata 386 merosot dari tahun 2007 dengan nilai rata-rata 397.

Menurutnya, rendahnya kualitas pendidikan ini diakibatkan juga oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang kerap mengeluarkan kebijakan pendidikan tanpa peduli pada peningkatan mutu dan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Bahkan hasil dari penelitian internasional ini bukan dikaji mendalam melainkan langsung membuat kebijakan baru lagi.

"Harusnya kan hasil dari penelitian-penelitian itu jadi dikaji lagi. Masalahnya dimana dan apa yang terpenting yang harus diubah. Tidak asal bikin kebijakan saja," jelas Retno.

"UN masih saja dilanjutkan padahal sudah jelas putusan MA. UKG dadakan dan sekarang kurikulum diganti. Ini contoh pengelolaan pemerintah sudah tidak mempertimbangkan sumber daya manusia dan hanya mengejar proyek," tandasnya.

 
Editor :
Caroline Damanik
info
09.59

UI BAKAL IKUTI ATURAN KUOTA SNMPTN 2013

JAKARTA, KOMPAS.com - Universitas Indonesia (UI) akan mengikuti aturan kuota baru dalam penerimaan mahasiswa baru mendatang dengan menyediakan kuota sekitar 50-60 persen bagi mahasiswa baru yang akan masuk melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2013 mendatang.

Pejabat Sementara Rektor UI, Djoko Santoso, mengatakan bahwa UI akan mengikuti syarat yang telah ditetapkan oleh panitia pelaksana SNMPTN 2013. Kuota yang disediakan tidak akan banyak jauh berbeda dengan kuota secara nasional yang ditetapkan oleh panitia pelaksana SNMPTN 2013.

"Kuotanya tidak berbeda jauh dari yang telah ditetapkan. SNMPTN 2013 ini kan mengharuskan menyediakan 60 persen kuota. Ya kami tidak akan jauh dari itu," kata Djoko kepada Kompas.com, Kamis (13/12/2012).

UI juga tetap akan menjalankan sistem baru yang dilakukan untuk SNMPTN 2013 ini yaitu menjaring mahasiswa barunya melalui nilai rapor, hasil Ujian Nasional (UN) dan prestasi akademik maupun non-akademik siswa selama di tingkat SMA/SMK/MA. Untuk prestasi non-akademik seperti seni atau olahraga, siswa yang bersangkutan wajib melampirkan sertifikat atau piagam sebagai bukti prestasi.

Ia mengakui bahwa proses SNMPTN pada penerimaan mahasiswa baru 2013/2014 mendatang sama dengan proses SNMPTN 2012 untuk jalur undangan. Namun hal tersebut tidak menjadi masalah karena UI juga akan ikut serta menyelenggarakan ujian tertulis bersama dengan 61 PTN lain melalui Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN).

"Ini memang seperti jalur undangan. Hanya kuotanya saja diperbanyak. Tapi UI tetap akan mengadakan ujian tertulis juga setelah SNMPTN diumumkan," tandasnya.

 
Editor :
Caroline Damanik
info
09.56

SISWA TANPA NPSN TAK BISA IKUTI SNMPTN

BUTUH GURU LES PRIVAT UNTUK ANAK ANDA?

SURABAYA, KOMPAS.com - Siswa dari sekolah tanpa NPSN (nomer pokok sekolah nasional) tidak akan bisa mengikuti Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) dan Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2013.
"Kalau tanpa NPSN berarti sekolah itu tidak terdaftar secara nasional, karena itu siswa dari sekolah tanpa NPSN tidak akan bisa mengikuti SNMPTN (jalur undangan) dan SBMPTN (jalur tulis)," kata Kepala Badan Akademik ITS, Dr Dra Ismaini Zain MSi, di Surabaya, Kamis (27/12/2012).

Ia mengemukakan hal itu setelah menyampaikan sosialisasi SNMPTN kepada pimpinan dari 170 SMA/SMK/MA negeri dan swasta se-Surabaya di SMKN 6 Surabaya yang bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Kota Surabaya.

"Siswa yang tidak mempunyai NISN (nomer induk siswa nasional) masih bisa mengikuti SNMPTN dan SBMPTN, asalkan sekolahnya memiliki NPSN, sebab NISN tinggal memberi nomer 000... di depan NPSN. Soal itu sudah diatur dalam Klausal Sosialisasi SNMPTN 2013," katanya.

Bahkan, katanya, siswa yang harus mengikuti "remidial" (ujian ulang) di sekolahnya juga bisa mendaftar, karena Klausal Sosialisasi SNMPTN 2013 sudah mengatur tentang hal itu, yakni nilai yang belum "remidial" bisa ditulis, tapi setelah nilai "remidial" bisa diralat.

"Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya Dr M Ikhsan SPsi MM yang datang dalam sosialisasi itu menjamin siswa yang tidak memiliki NISN hanya sedikit dan Dinas Pendidikan Kota Surabaya siap membantu siswa itu dengan memberi kode 000... pada NPSN yang dimiliki sekolahnya," katanya.

Dalam sosialisasi yang juga dihadiri Pembantu Rektor I ITS Prof Dr Ing Ir Herman Sasongko itu, dosen Jurusan Statistika ITS itu menjelaskan pola penerimaan mahasiswa baru 2013 ada tiga jalur yakni SNMPTN, SBMPTN dan program kemitraan dan mandiri (PKM).

"Jalur SNMPTN tetap ada, namun hanya dibuka untuk SNMPTN undangan. Dulunya, jalur SNMPTN ada jalur undangan dan tulis, sedang jalur tulis saat ini disebut SBMPTN, lalu jalur seleksi terakhir adalah PKM (program kemitraan dan mandiri)," katanya.

Untuk kuota, SNMPTN sebanyak 50 persen, jalur SBMPTN sejumlah 30 persen dan sisanya sebesar 20 persen untuk jalur PKM. "Karena itu, setiap PTN harus membuat daftar daya tampung untuk diinformasikan ke calon mahasiswa melalui website masing-masing PTN. Insya-Allah, info ITS sudah bisa diakses di www.its.ac.id pada Januari," katanya.

Karena persentase yang banyak di jalur SNMPTN itu, maka setiap sekolah diperbolehkan mendaftarkan seluruh siswanya untuk masuk seleksi jalur SNMPTN. Setelah Kota Surabaya, sosialisasi SNMPTN 2013 oleh tim ITS ini akan dilanjutkan ke Kabupaten Sidoarjo, Kamis (27/12/2012), serta Kota dan Kabupaten Pasuruan, Jumat (28/12/2012).

Dalam sambutannya, Prof Herman Sasongko menyatakan bahwa terdapat dua parameter dalam penilaian calon mahasiswa yang mendaftar. "Pertama, parameter dari kemampuan atau potret asal sekolah calon mahasiswa itu. Ini bisa dinilai dari tingkat akreditasi sekolahnya. Kemudian nilai alumni dari sekolah asal calon mahasiswa di ajang SNMPTN tiga tahun sebelumnya secara berturut-turut, mulai tahun 2010, 2011 dan 2012, lalu penilaian alumni sekolah asal calon mahasiswa dalam bidang nilai IPK selama perkuliahan tahap persiapan (semester 1 dan 2) di PTN masing-masing," katanya.

Parameter kedua, dari calon mahasiswa itu sendiri terkait nilai rapor atau akademiknya selama tiga tahun masa pembelajaran serta nilai Ujian Nasional (UN). "Untuk kategori terakhir ini ITS memberikan otorisasi terhadap nilai mata pelajaran tertentu. Misalkan, jika si calon memilih salah satu jurusan di FTI (Fakultas Teknologi Industri), maka nilai fisika, matematika dan bahasa Inggris-nya yang diutamakan," katanya.

Sebelumnya Senin (17/12/2012), Tim dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya juga melakukan sosialisasi SNMPTN 2013 ke beberapa daerah pada 17-20 Desember 2012. "Tim Unair sendiri diberi amanah sosialisi pada empat kabupaten antara lain Bojonegoro, Tuban, Gresik dan Lamongan," kata Wakil Rektor I Unair Prof Syahrani. 

Sumber :
ANTARA
Editor :
Benny N Joewono
09.54

SMAN SBBS, SEKOLAH PENCETAK JUARA OLIMPIADE SAINS

SOLO, KOMPAS.com - Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) Sragen Bilingual Boarding School (SBBS) dapat menjadi contoh bagi sekolah yang ingin mengukir prestasi positif.
Meski berlokasi di salah satu kecamatan yang tidak terlalu ramai di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, namun sekolah yang baru berdiri lima tahun ini sudah menghasilkan segudang prestasi. Para siswanya pun tidak pernah tawuran.
Terakhir, sekolah ini mengirimkan 13 siswa terbaiknya mengikuti Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2012 yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Ketiga belas siswa berhasil membawa pulang medali, yakni lima emas, lima perak, dan tiga perunggu untuk bidang Matematika, Biologi, Kebumian, Komputer, Fisika, Kimia, dan Ekonomi.  
Selain mencapai banyak prestasi di bidang akademik, sekolah ini tetap tidak melupakan pendidikan karakter. Ini dipermudah dengan sistem asrama bagi siswa-siswanya.
"Asrama membantu menanamkan pendidikan karakter bagi siswa. Mereka dilatih mandiri dengan penanaman sifat-sifat luhur, seperti jujur. Perubahan sekecil apapun pada siswa bisa terpantau sejak dini," kata Kepala SMAN SBBS, Nur Cipto, saat bersama rombongan berkunjung ke Kantor Kompas Perwakilan Solo, Selasa (25/9/2012) ini.
"Di sekolah mereka tidak diperkenankan memegang telepon seluler dan uang saku pun hanya Rp 50.000 per minggu. Kalau punya uang lain harus dititipkan kepada pembina atau ditabung di bank. Kalau ingin mengambil lewat ATM harus izin dulu," tambahnya.
Untuk mendapatkan siswa bibit unggul, SMAN SBBS menyebar undangan ke SMP-SMP di seluruh Nusantara, terutama kepada siswa yang pernah menjadi juara atau finalis lomba atau Olimpiade Sains Nasional. Saat ini, di sekolah ini terdapat siswa dari seluruh Nusantara, seperti Kalimantan, Papua, Sumatera, dan daerah-daerah lainnya.
Para siswa berpotensi ini dibebaskan dari biaya pendidikan, termasuk biaya hidup selama sekolah di SBBS. Mereka juga dibina agar semakin terasah potensinya. Siswa yang masuk lewat jalur reguler harus membayar Rp 37 juta untuk satu tahun ajaran.
"Begitu siswa bergabung, langsung kami bina, yang berpotensi akademik kami masukkan pusat pelatihan 20 hari di Jakarta atau Yogyakarta bersama siswa dari jaringan sekolah kami, PASIAD, di beberapa kota lainnya. Kembali ke sekolah, mereka dibina oleh guru-guru dan dosen undangan," ungkap Koordinator Olimpiade SMAN SBBS, Eko Sugiyanto.
Setelah itu, siswa diikutkan berbagai perlombaan untuk mengetahui perkembangannya, termasuk puncaknya mengikuti OSN yang digelar Kemdikbud. Tahun lalu, beberapa siswa lulusan OSN dari sekolah ini juga berhasil meraih medali dalam ajang olimpiade internasional, antara lain di bidang fisika. 

Editor :
Agus Mulyadi
info
09.52

PRESTASI PENDIDIKAN DUA SISWA GRESIK BERLAGA DI OLIMPIADE SAINS INTERNASIONAL

GRESIK, KOMPAS.com - Dua siswa asal Gresik, Jawa Timur akan berlaga di ajang International Mathematic and Science Olympiad.
Renata Safa Swandari, siswa kelas 5 Sekolah Dasar Nahdhlatul Ulama 1 Trate Gresik, akan berlaga di bidang sains di India pada 28 Oktober-1 November, sedang Nurul Ainun Nuha siswi kelas 6 SD Muhammadiyah Manyar , akan berlaga di World Creativity Festival di Korea Selatan pada 25-29 Oktober.
N urul Ainun Nuha, yang akrab dipanggil Nuha anak pasangan Nurul Mukhid dan Yety Yunita, akan mempresentasikan alat penjernih air (moringa water filter) berbahan utama biji kelor. Setiap enam biji kelor bisa menjernihkan 1 liter air keruh.
Nuha yakin karyanya akan terpilih meskipun harus bersaing dengan delegasi dari Singapura, Thailand, Vietnam, dan Korea Selatan. Alat yang disiapkan Nuha membutuhkan biaya sekitar Rp 150.000, syarat diikutkan lomba, maksimal biayanya Rp 50 dollar Amerika Serikat atau sekitar Rp 480.000 dengan kurs Rp 9.600 per dollar.
Nuha tidak menggunakan tawas atau kaporit untuk penjernih air. Biji kelor dipadu dengan arang, galon, kran, dan bak penampung. Biji kelor ditumbuk lebih dulu, dicampur sedikit air hingga berbentuk pasta lalu dimasukkan ke air yang keruh dan didiamkan selama 1-2 jam.
Selanjutnya air yang sudah diberi pasta kelor itu dialirkan melalui kran ke bak penampungan yang diberi lapisan arang dan kain kassa. Arang untuk menghilangkan bau kelor. Jika lama mendiamkan pasta kelor lebih dari dua jam air bisa langsung diminum.
Sementara Renata Safa Swandari, akrab dipanggil Tata, anak pasangan Yu suf Mardiana dan Anna Yuliastuti, dikenal tidak suka bermain. Ia hanya suka membaca buku dan mencari informasi di internet. Ia lebih hanya menonton televisi yang mengandung informasi seperti hotspot atau spotlite .
Menurut gurunya, Suyanto, Tata unik dan berbakat. Ia diberi waktu satu minggu untuk membaca satu yang ia berikan, tetapi sudah tuntas dalam dua hari. Ketika Suyanto menguji, Tata sudah menguasai, p adahal buku-buku itu kebanyakan berbahasa Inggris .
Saat masih kelas 1 SD Tata menjuarai Lomba Pidato Bahasa Inggris se wilayah Gerbang Kertasusila ( Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, dan Lamongan) mengalahkan siswa yang sudah kelas VI. Tata punya hobi berselancar di internet serta membaca , ilmu pengetahuannya luas. T eman-temannya menyebut Renata Safa Swandari dengan sebutan Miss Google.
Wakil Bupati Gresik, Mohammad Qosim, menyatakan mendukung dan bangga atas prestasi keduanya. Ia berharap Tata dan Nuha bisa membanggakan Indonesia. 
 
Editor :
Robert Adhi Ksp
info
09.50

JAWA TENGAH JUARA UMUM OSTN SMK 2012

YOGYAKARTA,KOMPAS.com - Provinsi Jawa Tengah menjadi juara umum Olimpiade Sains Terapan Nasional (OSTN) SMK 2012 di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, 29 Oktober - 1 November 2012.
Prestasi Jawa Tengah iotu diumumkan dalam penutupan OSTN, Kamis malam (1/11/2012), di Grha Sabha Pramana UGM. Dengan kemenangan ini, Provinsi Jawa Tengah berhak mendapatkan piala tetap dan trofi bergilir OSTN yang sebelumnya dipegang Provinsi DKI Jakarta.

Sedangkan Juara Kedua dan Ketiga diraih provinsi Jawa Barat dan DKI Jakarta. Adapun D.I. Yogyakarta harus puas berada di posisi keenam, setelah Jambi dan Lampung.
Dirjen Pendidikan Menengah, Kemendikbud, Hamid Muhammad, PhD, mengatakan para siswa yang berhasil menjadi juara di OSTN akan difasilitasi untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
"Mereka yang berprestasi akan kita fasilitasi untuk masuk ke perguruan tinggi atau difasilitasi untuk langsung masuk ke dunia kerja," kata Hamid.

Hamid berharap para guru dan siswa tidak berhenti berprestasi, berkreasi dan berinovasi. Pembinaan prestasi siswa dilakukan melalui sisi akademik, skill, seni budaya dan olahraga.
"Kami berharap betul kepada sekolah dan guru. SMK bukan hanya mobil esemka saja tapi juga punya prestasi lain di bidang budaya," ungkapnya.

Menurut Hamid, bila di tiap-tiap 497 kota/Kabupaten minimal memiliki satu SMK yang mampu menciptakan kreasi dan inovasi baru tiap tahunnya, maka semakin menambah kebanggaan dan kecintaan masyarakat pada SMK.

Berikut daftar pemenang OSTN 2012.
Kategori Lomba Matematika Teknologi; Juara I Robi Fajar Bahari dari SMKN 2 Sukabumi, Jawa Barat, Juara II Muhammad Musta'in dari SMKN 2 Pati Jawa Tengah, Juara III diraih Elang Cergas Pemberani dari SMKN 2 Depok Sleman Yogyakarta.

Kategori lomba Matematika Non Teknologi; Juara I diraih Diah Suprihatin dari SMKN 1 Kendal, Jawa Tengah, Juara II diraih Maggy dari SMK Unggul Sakti Jambi dan Juara III diraih Ariska Trisnandari dari SMKN 2 Sumedang, Jawa Barat.

Kategori Lomba Fisika Terapan: Juara I diraih Ananto Roni Widodo dari SMKN 1 Rembang, Jawa Tengah, Juara II diraih Rehhan Issatyadi Darmawan dari SMK 2 Mei Bandar Lampung dan Juara III diraih Miftah Farid Ramdani dari SMKN 2 Kota Serang, Banten.

Kategori Lomba Kimia Terapan: Juara I diraih Kristiyana dari SMK Tunas Harapan Pati, Juara II diraih Rahadian Yusuf dari SMK Analis Kimia Bogor Jawa Barat, dan Juara III diraih Dian Arnita Siahaan dari SMK Caraku Nusantara, Jakarta.

Kategori Lomba Biologi Terapan: Juara I diraih Winda Nurafiani dari SMK Tunas Medika, DKI Jakarta, Juara II diraih Siska Widya Astuti dari SMKN 1 Temanggung Jawa Tengah, dan Juara III diraih Nana Nurdiati dari SMKN Kehutanan Sulawesi Selatan.

Editor :
Ervan Hardoko
info
09.48

ALUMNI OLIMPIADE SAINS DIBENTUK

KOMPAS.com - Ratusan alumnus peserta olimpiade sains bertemu Sabtu (22/12), di Jakarta. Selain untuk reuni sesama alumnus, pertemuan ini juga dimanfaatkan pemerintah untuk mengumpulkan data alumni dari berbagai angkatan.

Dalam pertemuan itu juga dibahas tentang pembentukan ikatan alumni setiap bidang untuk mewadahi kegiatan-kegiatan di masa yang akan datang. Direktur Pembinaan Sekolah Menengah Atas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Harris Iskandar berharap para alumnus bisa mendorong meningkatkan kemampuan siswa SMA dalam olimpiade sains seperti matematika, fisika, biologi, kimia, astronomi, komputer, ekonomi, kebumian, dan geografi.

”Dua tahun terakhir ini prestasi siswa SMA dalam ajang sains internasional melempem. Dulu tim kita sering meraih medali emas, tapi sekarang ada penurunan,” kata Harris.

Olimpiade Sains Nasional (OSN) merupakan ajang kompetisi bidang sains bagi siswa SMA dan yang sederajat. Setelah 11 kali dilaksanakan, OSN telah memiliki ribuan alumnus. (LUK)

 
Sumber :
Kompas Cetak
Editor :
Caroline Damanik
info
22.19

SAATNYA MENCOBA PELUANG STUDI S-2 KE BELGIA

info
22.19

DUNIA DALAM SELEMBAR KERTAS

KOMPAS.com - Selembar kertas di tangan anggota Komunitas Paper Replika Indonesia atau PeRI bisa memunculkan seluruh isi dunia. Kertas itu dibentuk dan dirakit menjadi aneka robot, tokoh animasi, bangunan, hingga bajaj dan penari. Mawar Kusuma

Anggota Komunitas PeRI sangat antusias mempertontonkan karya berupa kerajinan kertas (papercraft) mereka di Mal Kota Kasablanka, Jakarta, pekan lalu. Ada lebih dari 2.500 kerajinan kertas beragam model dari seluruh Indonesia yang dipamerkan untuk memecahkan rekor Muri.

Salah satu anggota PeRI, Esya (28), menunjukkan karya miniatur tokoh kartun Kungfu Panda hingga replika anggota Densus 88 bikinannya. ”Susah karena part-nya kecil-kecil,” kata Esya.

Esya mulai jatuh cinta pada kerajinan kertas sejak tiga tahun lalu. Ia senang karena bisa menciptakan aneka mainan robot yang sebelumnya tak terbeli. Harga robot bisa dipangkas dari Rp 2 juta menjadi hanya Rp 40.000.

Saking rajinnya membuat kerajinan kertas, koleksi miniatur kertas Esya sudah memenuhi dua rak lemari di rumahnya. ”Melihat hasilnya bisa bikin senyum. Biasanya dibuat sambil kerja atau kuliah,” tambah Esya.

Anggota Komunitas PeRI lainnya, Aprizal (15), menunjukkan karya kebanggaannya berupa diorama roket. Sementara Setiawan (30) mempertontonkan pesawat MiG 15 yang polanya dibeli dari website luar negeri seharga 20 dollar AS.

Mayoritas pencinta kerajinan kertas suka karya miniatur mini. Semakin mungil semakin tinggi tingkat kesulitannya. Berbeda dengan Roy (30), yang justru lebih suka kerajinan kertas berukuran raksasa. ”Besar lebih mantap,” kata Roy, yang antara lain membuat senapan kertas dan granat kertas yang dikerjakan dalam jangka waktu dua bulan. Selain dipajang, Roy biasa menenteng senapan dan seluruh atribut perang itu sebagai pelengkap ketika ia mengenakan kostum tokoh film atau komik (costplay).

Divisi khusus
Kerajinan kertas yang cukup menyedot perhatian pengunjung pameran adalah sepeda motor mungil yang disimpan dalam kotak kaca. Sepeda motor karya Ilud (29) itu dibuat sangat detail, lengkap dengan mesin, karburator, hingga knalpot.

Ilud mengunduh pola sepeda motor tersebut dari website resmi Yamaha. Hampir seluruh perusahaan sepeda motor dari Jepang selalu mengeluarkan pola kerajinan kertas yang bisa diunduh gratis ketika meluncurkan produk baru. Mereka bahkan memiliki divisi khusus pembuatan kerajinan kertas.

Meskipun pola sepeda motor telah tersedia, butuh waktu hingga empat bulan bagi Ilud untuk menyelesaikan pembuatan kerajinan kertas sepeda motor. ”Buat pajangan saja. Ngerjainnya sejam dua jam sepulang kerja,” kata Ilud.

Tak melulu hanya mencontoh pola yang sudah ada, Ilud juga berkreasi dengan memperkecil ukuran sepeda motor itu. Ia membagi selembar kertas A4 menjadi empat bagian sebelum menjiplak pola, menggunting, dan merakitnya.

Ilud memperkecil ukuran miniatur sepeda motor dari 40 sentimeter menjadi separuhnya. ”Semakin kecil semakin ada tantangannya. Harus sabar dan enggak gampang jenuh. Jadi tambah fokus,” kata Ilud.

Ilud juga sudah mulai mendesain pola robot karyanya sendiri. Ia kemudian membagikan pola itu di internet agar bisa diunduh gratis oleh sesama pencinta kerajinan kertas di seluruh dunia. Ia mengenal kerajinan kertas dari pelajaran Matematika di bangku SD. ”Pada dasarnya pola kerajinan kertas cuma pengembangan bentuk dari balok, kubus, silinder, dan segitiga,” tambah Ilud.

Langka desainer
Menurut Koordinator Event Komunitas PeRI Rauf Raphanus, jumlah desainer pembuat pola kerajinan kertas di Indonesia masih jarang. Dari lebih 3.000 anggota PeRI, hanya ada sekitar 30-an desainer.

Kerajinan kertas yang dibuat di waktu senggang ini sejatinya merupakan kegiatan yang serius. Untuk membuat pola desain kerajinan kertas, dibutuhkan pendidikan khusus yang hingga kini belum ada di Indonesia. Desainer juga membutuhkan minimal tiga perangkat lunak, seperti perangkat lunak tiga dimensi, software unfold pemecah tiga dimensi menjadi dua dimensi, hingga perangkat lunak desain grafis.

Salah satu pendiri PeRI, Julius Perdana, misalnya, membutuhkan waktu setahun untuk mendesain robot Transformers Optimus Prime. ”Misi utama PeRI adalah memperkenalkan kerajinan kertas dan meningkatkan nilai jual seni kerajinan kertas,” kata Rauf.

Komunitas PeRI dibentuk pada 2009. Mereka sebelumnya hanya tersambung di internet. Mereka lalu mulai mengikuti beragam pameran dan membuka seminar serta pelatihan. Lewat kerajinan kertas, Rauf sudah menjalin kerja sama dengan perusahaan di Eropa dan Australia. Perusahaan dari luar negeri sangat mengapresiasi kerajinan kertas untuk pembuatan logo hingga model produk.

Tak hanya bisa dijual, kerajinan kertas memiliki manfaat pengembangan kemampuan motorik bagi anak usia 6-10 tahun. Pengenalan bentuk-bentuk dua dimensi dan tiga dimensi membuat kemampuan matematis anak semakin berkembang. Penggemarnya juga menemukan kesenangan ketika merakit potongan-potongan kertas menjadi apa saja sesuka mereka.
 
Sumber :
Kompas Cetak
Editor :
Caroline Damanik
info
22.17

SAATNYA MENCOBA PELUANG STUDI S-2 KE BELGIA

KOMPAS.com - VLIR-UOS kembali menawarkan kesempatan beasiswa untuk mengikuti pelatihan atau studi S-2 di Belgia pada tahun ajaran baru mendatang. Beasiswa akan menanggung semua biaya, mulai dari biaya kuliah sampai biaya hidup.

Kandidat harus berusia di bawah 40 tahun jika hendak mengikuti program studi S-2 dan harus berada di bawah usia 45 tahun untuk mengikuti program pelatihan. Kandidat juga harus memiliki kemampuan bahasa Inggris yang baik dengan menunjukkan nilai tes TOEFL PBT minimal 550, TOEFL iBT dengan minimal nilai 79, tes IELTS dengan minimal skor 6,5 atau tes kemampuan bahasa lainnya yang setara dengan itu.

Selain itu, kandidat harus memiliki pengalaman profesional, terutama dari lembaga penelitian, institusi pendidikan tinggi, pemerintahan pusat maupun daerah, sektor sosial ekonomi atau dari lembaga swadaya masyarakat. Kriteria dan langkah selanjutnya untuk mendaftar beasiswa ini bisa dilihat langsung di laman resmi beasiswa VLIR-UOS.

Hanya kandidat dari negara-negara di Afrika, Asia dan Amerika Latin yang bisa mengajukan diri untuk memperoleh kesempatan ini. Pendaftaran untuk studi S-2 sudah dibuka sejak Oktober 2012 dan untuk pelatihan sudah dibuka sejak bulan November lalu. Paling lambat, pendaftaran ditunggu hingga 1 Febriari 2013.
 
Editor :
Caroline Damanik
info
22.17

SAATNYA MENCOBA PELUANG STUDI S-2 KE BELGIA

KOMPAS.com - VLIR-UOS kembali menawarkan kesempatan beasiswa untuk mengikuti pelatihan atau studi S-2 di Belgia pada tahun ajaran baru mendatang. Beasiswa akan menanggung semua biaya, mulai dari biaya kuliah sampai biaya hidup.

Kandidat harus berusia di bawah 40 tahun jika hendak mengikuti program studi S-2 dan harus berada di bawah usia 45 tahun untuk mengikuti program pelatihan. Kandidat juga harus memiliki kemampuan bahasa Inggris yang baik dengan menunjukkan nilai tes TOEFL PBT minimal 550, TOEFL iBT dengan minimal nilai 79, tes IELTS dengan minimal skor 6,5 atau tes kemampuan bahasa lainnya yang setara dengan itu.

Selain itu, kandidat harus memiliki pengalaman profesional, terutama dari lembaga penelitian, institusi pendidikan tinggi, pemerintahan pusat maupun daerah, sektor sosial ekonomi atau dari lembaga swadaya masyarakat. Kriteria dan langkah selanjutnya untuk mendaftar beasiswa ini bisa dilihat langsung di laman resmi beasiswa VLIR-UOS.

Hanya kandidat dari negara-negara di Afrika, Asia dan Amerika Latin yang bisa mengajukan diri untuk memperoleh kesempatan ini. Pendaftaran untuk studi S-2 sudah dibuka sejak Oktober 2012 dan untuk pelatihan sudah dibuka sejak bulan November lalu. Paling lambat, pendaftaran ditunggu hingga 1 Febriari 2013.
 
Editor :
Caroline Damanik
info
22.17

SAATNYA MENCOBA PELUANG STUDI S-2 KE BELGIA

KOMPAS.com - VLIR-UOS kembali menawarkan kesempatan beasiswa untuk mengikuti pelatihan atau studi S-2 di Belgia pada tahun ajaran baru mendatang. Beasiswa akan menanggung semua biaya, mulai dari biaya kuliah sampai biaya hidup.

Kandidat harus berusia di bawah 40 tahun jika hendak mengikuti program studi S-2 dan harus berada di bawah usia 45 tahun untuk mengikuti program pelatihan. Kandidat juga harus memiliki kemampuan bahasa Inggris yang baik dengan menunjukkan nilai tes TOEFL PBT minimal 550, TOEFL iBT dengan minimal nilai 79, tes IELTS dengan minimal skor 6,5 atau tes kemampuan bahasa lainnya yang setara dengan itu.

Selain itu, kandidat harus memiliki pengalaman profesional, terutama dari lembaga penelitian, institusi pendidikan tinggi, pemerintahan pusat maupun daerah, sektor sosial ekonomi atau dari lembaga swadaya masyarakat. Kriteria dan langkah selanjutnya untuk mendaftar beasiswa ini bisa dilihat langsung di laman resmi beasiswa VLIR-UOS.

Hanya kandidat dari negara-negara di Afrika, Asia dan Amerika Latin yang bisa mengajukan diri untuk memperoleh kesempatan ini. Pendaftaran untuk studi S-2 sudah dibuka sejak Oktober 2012 dan untuk pelatihan sudah dibuka sejak bulan November lalu. Paling lambat, pendaftaran ditunggu hingga 1 Febriari 2013.
 
Editor :
Caroline Damanik
info
22.14

KURIKULUM 2013 BELUM DIPERLUKAN?

JAKARTA, KOMPAS.com - Sejumlah praktisi pendidikan berpendapat bahwa kurikulum 2013 belum diperlukan karena perlu pengkajian lebih lanjut serta sosialisasi secara luas kepada masyarakat agar dapat memahami perubahan kurikulum tersebut.
"Sebenarnya pergantian kurikulum baik, tetapi tidak secepat ini. Perlu waktu untuk sosialisasi kepada masyarakat agar dapat mengerti serta memahaminya, terutama bagi masyarakat yang berkecimpung di dunia pendidikan," kata seorang praktisi pendidikan, dosen, sekaligus staf penerbit buku sekolah Suwardi Edhytomo kepada Antara di Jakarta, Selasa (18/12/2012).
Senada juga dikatakan oleh seorang praktisi pendidikan lainnya Subagya, kurikulum yang sedang berjalan saat ini pada dasarnya baik, terutama dari segi proses belajar. "Namun, beban materi untuk anak Sekolah Dasar (SD) terlalu banyak," kata Subagya.
Tekanan pelajaran masih pada aspek kognitif. Di Jerman hanya empat pelajaran yakni berhitung, berbahasa, olahraga, dan seni. Jadi, kurikulum 2013 ini belum diperlukan.
Sebaiknya ambil saja materi yang relevan dan penambahan soft skill atau pendidikan karakter sehingga bekal kemampuan dan keterampilan dasar untuk kehidupan sesuai bagi perkembangan anak usia SD yang optimal.
Lebih lanjut Suwardi Edhytomo menambahkan pergantian kurikulum ini membuat masyarakat panik sehingga perubahan kurikulum perlu waktu untuk dikaji terlebih dahulu serta diikuti dengan perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) dan sosial masyarakat.
Suwardi dan Subagya sependapat bahwa mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) bagi SD belum perlu untuk tersendiri sebaiknya digabungkan saja dalam mata pelajaran Pengetahuan Umum.
Sementara itu, Subagya menjelaskan soft skill atau pendidikan karakter tercakup dalam ketangguhan pribadi (IQ), sosial (EQ), dan spiritual (SQ).
Daniel Goleman seorang ilmuwan Amerika Serikat menegaskan keberhasilan hidup manusia ditentukan oleh 15 persen ketangguhan pribadi (IQ) dan 85 persen justru oleh soft skill atau pendidikan karakter.
Sumber :
ANTARA
Editor :
Benny N Joewono
info
22.11

HATI-HATI, JANGAN TERTIPU KISI-KISI SOAL UN

JAKARTA, KOMPAS.com - Masyarakat diimbau untuk berhati-hati dan tidak mempercayai kisi-kisi atau bocoran soal ujian nasional (UN) yang diperjualbelikan bebas di pasaran. Pasalnya, tidak akan ada kisi-kisi atau kunci jawaban UN yang diperjualbelikan terlebih dengan embel-embel akurasi yang tinggi.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Chairil Anwar Notodiputro menyampaikan, kisi-kisi UN 2013 tidak disajikan dalam bentuk butir-butir soal. Akan tetapi, kisi-kisi yang diberikan hanya menampilkan judul, atau panduan mengenai materi apa saja yang akan diujikan.

"Kami tidak mengeluarkan kisi-kisi UN dalam bentuk butiran soal. Tapi hanya tor-nya saja, bukan latihan soal. Hati-hati jika ada pihak yang coba menipu dengan iming-iming akurasi tinggi," kata Chairil kepada Kompas.com, Sabtu (15/9/2012), di Jakarta.

Kisi-kisi soal UN akan dijadikan landasan untuk pembuatan soal ujian. Bersama Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), Kemendikbu terus berkoordinasi menggodok kisi-kisi tersebut. Rencananya, kisi-kisi UN akan disosialisasikan kepada seluruh siswa pada Oktober bulan depan. Semua tergantung keputusan dari BSNP atas draf kisi-kisi yang direkomendasikan oleh Kemendikbud.

Mengenai jumlah soalnya, telah ditentukan bahwa UN 2013 menggunakan 20 tipe soal. Diharapkan, banyaknya jenis soal akan menyulitkan siswa untuk mencontek sekaligus menekan tingkat kecurangan demi menjaga dan meningkatkan kredibilitas UN.
Editor :
Caroline Damanik

info
22.09

PENGAMANAN SOAL UJIAN NASIONAL 2013 AKAN DIPERKETAT

MATARAM, KOMPAS.com - Pengamanan naskah soal ujian nasional (UN) pada tahun ajaran 2013 oleh tim pengawasan akan lebih diperketat mulai dari pencetakan, penyimpanan, hingga distribusi ke sekolah-sekolah.
"Kalau sebelumnya naskah soal UN disimpan di Polsek sebelum didistribusikan ke sekolah-sekolah dan kita yang menjaga polisi, sekarang kita yang menentukan tempat penyimpanan dan polisi yang mengamankan," kata Rektor Universitas Mataram (Unram) Prof H Sunarpi PhD di Mataram, Minggu (23/12/2012).
Ia mengatakan, ini merupakan bagian dari proses pengamanan naskah soal UN yang harus dilakukan secara ketat di semua titik rawan guna mencegah terjadinya kebocoran.
Pengamanan naskah soal UN 2013 harus dilakukan sampai ke ruangan tempat berlangsungnya ujian, dan ini merupakan tanggung jawab peguruan tinggi.
Dalam kaitan itu, katanya, rektor akan menandatangani pakta integritas dengan Badan Sandar Nasional Pendidikan (BSNP) yang dilanjutkan dengan pembentukan tim kerja UN tingkat provinsi terkait dengan pengawasan bahan ujian di percetakan.
"Tim bertugas mengamankan soal-soal dalam proses pencetakan. Apa pun yang terjadi dalam proses pencetakan soal UN merupakan tanggung jawab kami yang jumlahnya 20 paket soal untuk setiap ruangan tempat berlangsungnya ujian," ujarnya.
Menurut Sunarpi, pengamanan juga dilakukan pada saat penarikan lembar jawaban ke univeritas dan selama dilakukan proses pemindaian dan mengirim hasilnya, terakhir membuat laporan tentang proses pelaksanaan UN tersebut.
Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Provinsi Nusa Tenggara Barat Lalu Syafi’i mengatakan, soal UN SMA/MA SMK pada tahun ajaran 2013 telah ditetapkan sebanyak 20 paket yang masing-masing peserta soalnya tidak sama, sementara pada tahun sebelumnya hanya lima paket.
"Soal ujian di masing-masing ruangan ujian berbeda, atau setiap peserta akan mendapatkan isi teks soal berbeda dengan yang lainnya. Sementara kriteria kelulusan pada UN sama dengan tahun-tahun sebelumnya, yakni 60 persen hasil UN dan 40 persen ujian sekolah," katanya.
Ia mengatakan yang berbeda adalah jika pada 2012 ujian kesetaraan regulasinya sama, maka pada 2013 baik regulasi maupun prosedur operasional standar (POS) sama dengan UN.
Dia mengatakan, pada 2013 keterlibatan perguruan tinggi pada pelaksanaan UN tersebut lebih luas, mulai dari persiapan, penyiapan pengawas, pengumuman dan pembuatan laporan.
Sumber :
Editor :
Benny N Joewono
info
22.06

PERAN PERGURUAN TINGGI LEBIH DOMINAN PADA UN 2013

MATARAM, KOMPAS.com - Peran perguruan tinggi (PT) pada ujian nasional 2013 untuk tingkat SMA/MA dan SMK lebih dominan karena pelaksanaan ujian tersebut diharapkan berjalan lebih jujur dan hasilnya benar-benar bisa dipertanggungjawabkan secara akademik.
Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Provinsi Nusa Tenggara Barat Lalu Syafi’i di Mataram, Minggu, mengatakan dalam standar operasional prosedur peran dan tanggung jawab PT lebih dominan, karena hasilnya akan dimanfaatkan sebagai bahan seleksi masuk perguruan tinggi negeri (PTN).
"Kalau dulu perguruan tinggi memiki peran dan tanggung jawab yang sama, pada UN 2013 ini PT lebih dominan khususnya untuk tingkat SMA/MA dan SMK. Sementara untuk ujian UN SMP/MTs dan SD itu menjadi tanggung jawab kami," kata Syafii, Minggu (23/12/2012).
Mulai dari pencetakan naskah soal UN hingga menentukan pengawas ruangan ditetapkan dengan surat keputusan (SK) rektor, namun tetap berkoordinasi dengan Dinas Dikpora NTB. Ini menunjukkan kewenangan yang diberikan kepada perguruan tinggi cukup besar.
"Namun dalam hal ini kami bukan hanya menonton, tetapi tanggung jawab PT lebih besar, mereka tetap berkoordinasi dengan kami. Karena itu rektor akan sibuk mengirim tim untuk melakukan pengawasan di lapangan, dengan cara ini kita harapkan hasil UN 2013 ini benar-benar dapat dipertanggungjawabkan secara akademik," katanya.
Syafi’i mengatakan, sepertinya UN 2013 merupakan wajah baru dibandingkan pada tahun sebelumnya khususnya untuk tingkat SMA/MA dan SMK. Pada prinsipnya ini dihajatkan agar pelaksanaan UN tersebut lebih jujur dan hasilnya dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.
Pada UN tahun-tahun sebelumnya, menurut Syafi’i, PT hanya bertugas melakukan pemindaian hasil UN, sementara yang tugas dan tanggung jawab lainnya berada di Dinas Dikpora.
"Sebenarnya ada konsep pengawasan UN SMA/MA dan SMK diawasi oleh guru-guru SMP, namun itu tidak bisa dilaksanakan karena jumlah guru SMA terutama di NTB relatif terbatas. Di setiap kecamatan kadang-kadang hanya ada satu SMA, sehingga akan menyulitkan," kata Syafi’i.
Sementara itu, Rektor Unram Prof H Sunarpi PhD mengatakan, UN 2013 sudah mendapatkan pengakuan dari pihak perguruan tinggi, karena hasilnya akan mulai diintegrasikan menjadi bahan yang ikut menentukan penerimaan calon mahasiswa baru di perguruan tinggi negeri (PTN) di Indonesia.
"Kalau tahun-tahun sebelumnya Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN)) merupakan seleksi yang sifatnya terpisah, alhamdulillah pada 2013 hasil UN akan diintegrasikan ke dalam SNMPTN melalui jalur Penjaringan Prestasi Akademik (PPA) khususnya untuk lulusan 2013," katanya.
Menurut dia, hanya lulusan UN 2013 yang boleh mendaftar melalui jalur PPA yang nantinya hanya didasarkan pada dua nilai yang dibuat oleh pendidikan sebelumnya, yakni nilai rapor mulai semester I hingga V dan nilai UN.
Jadi PPA itu, kata Sunarpi, hanya ditentukan dari dua nilai yang dibuat pada jenjang pendidikan sebelumnya. Ini merupakan salah satu bentuk terintegrasinya jenjang pendidikan antara pihak Sekolah Menengah Atas dengan perguruan tinggi dengan porsi 50 persen dari lulusan SMA tahun 2013 itu.
"Alhamdulillah berarti dari tahun ke tahun apa yang kita harapkan dari UN tentang kejujuran mulai mendapatkan pengakuan dari perguruan tinggi," katanya.
Sunarpi mengatakan, mudah-mudahan mulai 2014 semakin berkurang jumlah persentase mahasiswa baru yang diterima melalui seleksi terpilih, karena pada 2013 masih ada tes tertulis nasional sebesar 30 persen dan tes mandiri 20 persen dan 50 persen melalui jalur PPA yang hanya mempertimbangkan nilai rapor dan nilai UN.
"Berkaitan dengan itu tugas dan tanggung jawab perguruan tinggi cukup berat pada 2013, seperti perencanaan penyelenggaraan UN bersama Dinas Dikpora NTB. Rektor bersama Kadisdikpora akan duduk bersama membahas persiapan penyelenggaraan UN," ujarnya.
Sumber :
Editor :
Benny N Joewono
info
22.05

INI KELEMAHAN-KELEMAHAN KURIKULUM 2013

YOGYAKARTA, KOMPAS.com Dewan Pendidikan Daerah Istimewa Yogyakarta menilai bahwa draf kurikulum 2013 memiliki banyak kelemahan. Ketua Dewan Pendidikan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Wuryadi mencatat sejumlah kelemahan dari isi kurikulum yang rencananya akan mulai diimplementasikan pada tahun ajaran mendatang itu.

Kelemahan pertama, kurikulum 2013 bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional karena penekanan pengembangan kurikulum hanya didasarkan pada orientasi pragmatis. Selain itu, kurikulum 2013 tidak didasarkan pada evaluasi dari pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 sehingga dalam pelaksanaannya bisa membingungkan guru dan pemangku pendidikan.

"Saat ini, KTSP saja baru menuju uji coba dan ada beberapa sekolah yang belum melaksanakannya. Bagaimana bisa, kurikulum 2013 ditetapkan tanpa ada evaluasi dari pelaksanaan kurikulum sebelumnya," katanya di Yogyakarta, Senin lalu.

Kelemahan lainnya, lanjut Wuryadi, pemerintah seolah melihat semua guru dan siswa memiliki kapasitas yang sama dalam kurikulum 2013. Guru juga tidak pernah dilibatkan langsung dalam proses pengembangan kurikulum 2013.

Wuryadi juga menilai tak adanya keseimbangan antara orientasi proses pembelajaran dan hasil dalam kurikulum 2013. Keseimbangan sulit dicapai karena kebijakan ujian nasional (UN) masih diberlakukan.

"UN hanya mendorong orientasi pendidikan pada hasil dan sama sekali tidak memperhatikan proses pembelajaran. Hal ini berdampak pada dikesampingkannya mata pelajaran yang tidak diujikan dalam UN. Padahal, mata pelajaran non-UN juga memberikan kontribusi besar untuk mewujudkan tujuan pendidikan," tambahnya.

Kelemahan penting lainnya, pengintegrasian mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk jenjang pendidikan dasar. Dewan Pendidikan DIY menilai langkah ini tidak tepat karena rumpun ilmu mata pelajaran-mata pelajaran itu berbeda.

Karena melihat kelemahan-kelemahan ini, Dewan Pendidikan DIY meminta pemerintah melakukan desain ulang kurikulum 2013.

"Desain ulang terhadap kurikulum 2013 ini perlu dilakukan dengan turut melibatkan guru karena guru menjadi unsur penting dalam kurikulum baru itu," kata Wakil Ketua I Dewan Pendidikan DIY Heri Dendi.

Selain itu, Dewan Pendidikan juga akan mengirimkan hasil kajian tersebut kepada pihak-pihak terkait, seperti Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, DPR RI, serta Presiden dan Wakil Presiden RI.
Sumber :
Editor :
Caroline Damanik
info
10.51

PERMASALAHAN PENDIDIKAN

Semakin tertinggalnya pendidikan bangsa Indonesia dengan bangsa-bangsa lain, harusnya membuat kita lebih termotivasi untuk berbenah diri. Banyaknya permasalahan pendidikan yang muncul ke permukaan merupakan gambaran praktek pendidikan kita : 

1. Kurikulum 
Kurikulum kita yang dalam jangka waktu singkat selalu berubah-ubah tanpa ada hasil yang maksimal dan masih tetap saja. Yang jelas, menteri pendidikan berusaha eksis dalam mengujicobakan formula pendidikan baru dengan mengubah kurikulum. Perubahan kurikulum yang terus-menerus, pada prateknya kita tidak tau apa maksudnya dan yang beda hanya bukunya. Contohnya guru, banyak guru honorer yang masih susah payah mencukupi kebutuhannya sendiri. Kegagalan dalam kurikulum kita juga disebabkan oleh kurangnya pelatihan skill, kurangnya sosialisasi dan pembinaan terhadap kurikulum baru. Elemen dasar ini lah yang menentukan keberhasilan pendidikan yang kita tempuh

2. Biaya 
Banyak masyarakat yang memiliki persepsi pendidikan itu mahal dan lebih parahnya banyak pula pejabat pendidikan yang ngomong, kalau pengen pendidikan yang berkualitas konsekuensinya harus membayar mahal. Pendidikan sekarang ini seperti diperjual-belikan bagi kalangan kapitalis pendidikan dan pemerintah sendiri seolah membiarkan saja dan lepas tangan. Apa mereka sudah mengenyam pendidikan?? Akhir-akhir ini pemerintah dalam sistem pendidikan yang baru akan membagi pendidikan menjadi dua jalur besar, yaitu jalur formal standar dan jalur formal mandiri. Pembagian jalur ini berdasarkan perbedaan kemampuan akademik dan finansial siswa. Ironis sekali bila kebijakan ini benar-benar terjadi.

3. Tujuan pendidikan 
Katanya pendidikan itu mencerdaskan, tapi kenyataannya pendidikan itu menyesatkan. Lihat saja kualitas pendidikan kita hanya diukur dari ijazah yang kita dapat. Padahal sekarang ini banyak ijazah yang dijual dengan mudahnya dan banyak pula yang membelinya (baik dari masyarakat ataupun pejabat-pejabat).

4. Disahkannya RUU BHP menjadi Undang- Undang 
DPR RI telah mensahkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Badan Hukum Pendidikan (BHP) menjadi Undang-Undang. Namun, disahkannya UU BHP ini banyak menuai protes dari kalangan mahasiswa yang khawatir akan terjadinya komersialisasi dan liberalisasi terhadap dunia pendidikan. Segala aspirasi dan masukan, sudah disampaikan kepada Pansus RUU BHP. UU BHP ini akan menjadi kerangka besar penataan organisasi pendidikan dalam jangka panjang.

5. Kontoversi diselenggaraknnya UN 
Kedua, aspek yuridis. UN hanya mengukur kemampuan pengetahuan dan penentuan standar pendidikan yang ditentukan secara sepihak oleh pemerintah. Selain itu, pada pasal 59 ayat 1 dinyatakan, pemerintah dan pemerintah daerah melakukan evaluasi terhadap pengelola, satuan jalur, jenjang, dan jenis pendidikan. Tapi dalam UN pemerintah hanya melakukan evaluasi terhadap hasil belajar siswa yang sebenarnya merupakan tugas pendidik. Ketiga, aspek sosial dan psikologis. Dalam mekanisme UN yang diselenggarakannya, pemerintah telah mematok standar nilai kelulusan 3,01 pada tahun 2002/2003 menjadi 4,01 pada tahun 2003/2004 dan 4,25 pada tahun 2004/2005. Selain itu, belum dibuat sistem yang jelas untuk menangkal penyimpangan finansial dana UN.

6. Kerusakan Fasilitas 
sekolah Nanang Fatah, pakar pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan, sekitar 60 persen bangunan sekolah di Indonesia rusak berat. Di wilayah Jabar, sekolah yang rusak mencapai 50 persen. Kerusakan bangunan sekolah tersebut berkaitan dengan usia bangunan yang sudah tua. Untuk mengantisipasi hal tersebut, sejak tahun 2000-2005 telah dilaksankan proyek perbaikan infrastruktur sekolah oleh Bank Dunia, dengan mengucurkan dana Bank Dunia pada Komite Sekolah.
info
10.49

PERAN BIOLOGI DALAM PERTANIAN

Biologi adalah ilmu hayat yang mempelajari tentang aspek fisik kehidupan. Ilmu biologi sendiri didukung oleh cabang yang mengkhususkan diri pada steiap kelompok organisme, seperti botani yang mempelajari tetnang tumbuhan, zoologi tentang ilmu hewan, dan mikrobiologi yang mempelajari tentang jasad renik.

Ilmu biologi sendiri merupakan ilmu pengetahun yang sangat bermanfaat bagi kelangsungan hidup manusia. Salah satu peranan biologi yang bermanfaat terhadap manusia, yaitu khususnya pada bidang pertanian.



BUTUH GURU PRIVAT UNTUK ANAK ANDA?
JIKA PERLU GURU PRIVAT, SILAHKAN KLIK LES PRIVAT


Salah satu cabang ilmu biologi yang disebut dengan Bioteknologi, yaitu ilmu yang mempelajari tentang penggunaan penerapan proses biologi secara terpadu yang meliputi prosesbiokimia, mikrobiologi, rekayasa kimia untuk peningkatan bahan pangan dan bertujuan untuk kesejahteraan kehidupan manusia dalam segi bidang pangan.

Dalam Bioteknologi sendiri masih ada lagi beberapa cabang-cabang ilmu turunannya, turunan ilmu bioteknologi yang terkhusus mengaplikasikan pada bidang pertanian disebut sebagai Bioteknologi hijau.

Peranan Biologi dalam Bidang Pertanian
Khusus untuk ilmu bioteknologi hijau yang juga merupakan ilmu biologi, memiliki beberapa manfaat atau pernanan yang sangat penting dalam bidang pertanian. Adapun peranan ilmu ini untuk bidang pertanian, diantaranya adalah sebagai berikut:
  • Berperan dalam menghasilkan tanaman tahan hama
  • Berperan dalam penemuan obat-obatan pertanian
  • Berperan dalam penemuan bibit unggul yang dapat meningkatkan produksi pertanian
  • Berperan dalam menemukan cara pemberantasan hama pertanian secara biologis
Demikianlah beberapa peranan ilmu biologi dalam bidang pertanian. Semoga ulasan ini kiranya bermanfaat bagi teman-teman yang sudah menyempatkan waktu untuk membacanya...
info
10.45

PENDIDIKAN DI INDONESIA

Pendidikan di Indonesia memiliki beberapa polemik yang sulit untuk diatasi dalm waktu. Berbagai masalah terjadi di dunia pendidikan di Indonesia sangat memperihatinkan mengingat indonesia merupakan negara berkembang yang sangat membutuhkan pendidikan yang baik dan bisa bersaing di dunia internasional.

Pendidikan di Indonesia Mahal
Pepatah barat kaum kapitalis menyebutkan  “tidak ada sarapan pagi yang gratis”. Impian untuk dapat mengenyam pendidikan di PTN favorit seakan dihadang ranjau yang membahayakan masa depannya.
 

Pihak PTN berpikir bahwa kampus yang mereka kelola sangat marketable sehingga merekapun mengikuti hukum ekonomi, “biaya tinggi mengikuti permintaan yang naik”. Memang cukup dilematis, disatu sisi masyarakat dan negara selalu ingin meningkatkan kemampuan atau kecerdasan penerus bangsanya tetapi secara paradoks, masyarakat telah dibelenggu oleh
 biaya pendidikan yang mahal dan membuat seolah olah hanya kaum yang berduitlah yang mampu menyekolahkan anaknya Meski secara resmi pembukaan pasar bebas bidang pendidikan di Indonesia berlaku mulai tahun 2006 namun invasi pendidikan asing yang berimplikasi pada meningkatnya biaya pendidikan sudah lama terasa. Memang sebuah angka partisipasi pendidikan yang masih dibawah standar. Dan dengan berbekal ini, pendidikan tinggi di Indonesia semakin mahal yang semakin menjauhkan masyarakat menengah ke bawah dengan keinginan untuk menyekolahkan anaknya di perguruan tinggi negeri favorit yang murah.
Pendidikan di Indonesia Tidak Terfokus
Pendidikan di Indonesia
 selama ini terkesan tidak terfokus, ganti menteri pendidikan maka ganti juga kurikulum dan sistem pendidikannya. Pendidikan di Indonesia kurang membentuk kepribadian akademis (academic personality) yang utuh. Kepribadian akademis sangat penting dimiliki oleh pelaku pendidikan (anak didik dan pendidik) yang akan maupun yang sudah menguasai ilmu pengetahuan. Kepribadian akademislah yang dapat membedakan pelaku pendidikan dengan masyarakat umum lainnya. Diskusi yang bersifat dialog jarang terjadi dalam proses pendidikan kita, bersuara kadangkala diartikan keributan yang dikaitkan dengan tanda bahwa anak yang bersangkutan tidak disiplin atau bahkan dianggap bodoh. 

Kondisi pendidikan utamanya di perguruan tinggi dewasa ini terlihat kurang kondusif dan kurang konstruktif karena terjadi gejala sosial yang kurang baik muncul dalam lingkungan kampus. Tampaknya pendidikan di Indonesia belum sepenuhnya mampu mewujudkan watak dari ilmu pengetahuan yang bersifat terbuka. Pada awalnya ilmu pengetahuan yang dihasilkan dari dunia pendidikan berposisi untuk melakukan perlawanan terhadap mitos-mitos, seperti perlawanan Socrates terhadap tradisi mitologi budaya Yunani kuno yang percaya akan adanya dewa-dewi dan menganggapnya sebagai segala galanya. Guru merupakan faktor yang penting dalam pendidikan, sebaik apapun sistem dan kurikulumnya yang dibuat, jika tidak didukung oleh profesionalisme guru maka bisa dipastikan hasilnya tidak maksimal. Undang-Undang tentang Guru dan Dosen yang telah disahkan tidak secara cepat ditindaklanjuti oleh pemerintah. Ada sesuatu yang krusial atas kompleknya permasalahan dalam dunia Pendidikan Di Indonesia dimana anggaran pendidikan kita masih jauh dari anggaran yang digariskan yaitu 20% dari  APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) seperti disyaratkan oleh Undang Undang Dasar kita. Sebagai gambaran saja, untuk tahun 2006 anggaran pendidikan kita baru Rp 41,3 triliun atau sekitar 9,1% dari APBN, bahkan peningkatan anggaran pendidikan yang diajukan oleh pemerintah untuk RAPBN 2007 sangat tidak signifikan sekali yakni hanya menjadi Rp. 51,3 triliun atau sekitar 10,3 % dari RAPBN. 
Pendidikan di Indonesia yang Membebaskan
Pikiran manusia dapat membuat kesadaran, kesadaran adalah pengetahuan yang dibentuk oleh pikiran atau akal manusia. Karena itu kita akan mengenang pikiran Rene Descartes yang mengatakan bahwa “aku berpikir, aku sadar, maka aku ada” dengan demikian, kesadaran yang ada dalam pikiran itu membuat kita memiliki pengetahuan. Kondisi Pendidikan Di Indonesia harus mulai diarahkan kepada peningkatan kesadaran peserta didik dalam memandang objek yang ada, peran pendidik yang sangat dominan dan otoriter harus dikurangi, peranan pemerintahpun dalam “mengacak-acak” kurikulum harus dikaji secara cermat, kalaupun itu harus dilakukan maka terlebih dahulu harus dilakukan penyerapan aspirasi secara demokratis. 

Segenap komponen bangsa harus turut melakukan pembenahan sistem pendidikan di Indonesia sehingga penciptaan kesadaran individu dalam rangka kebebasan berpikir dan bertindak dengan mengedepankan etika dan norma di masyarakat dapat diwujudkan, hal ini dapat dilakukan melalui pendidikan formal di bangku sekolah dan juga pendidikan non formal sebagai metode pendampingan masyarakat luas dalam proses pendidikan bangsa yang harus terus dilakukan secara kontinyu, karena di masa sekarang maupun di masa mendatang, seorang intelektual tidak hanya cukup bergutat dengan ilmunya belaka namun realita sosial di masyarakat juga harus menjadi objek pemikiran dalam dirinya. Dengan ketatnya persaingan dewasa ini, arah Pendidikan Di Indonesia harus mampu berperan menyiapkan peserta didik dalam konstelasi masyarakat global dan pada waktu yang sama, pendidikan juga memiliki kewajiban untuk melestarikan national character dari bangsa Indonesia.
info
10.44

MUTU PENDIDIKAN

Pemahaman dan pandangan tentang mutu pendidikan selama ini sangat beragam. Orangtua memandang pendidikan yang bermutu sebagai lembaga pendidikan yang megah, gedung sekolah yang kokoh dengan genting yang memerah bata, taman sekolah yang indah, dan seterusnya. Para ilmuwan memandang pendidikan bermutu sebagai sekolah yang siswanya banyak menjadi pemenang dalam berbagai lomba atau olimpiade di tingkat nasional, regional, maupun internasional. Repatriat mempunyai pandangan yang berbeda lagi. Sekolah yang bermutu adalah sekolah yang memberikan mata pelajaran bahasa asing bagi anak-anaknya. Orang kaya tentu memiliki pandangan yang berbeda pula. Pendidikan yang bermutu adalah pendidikan yang diperoleh anaknya dengan membayar uang sekolah yang setinggi langit untuk memperoleh berbagai paket kegiatan ekstrakurikuler. Berbagai predikat lembaga pendidikan sekolah telah lahir, seperti sekolah favorit, sekolah unggulan, sekolah plus, kelas unggulan. Ada pula berbagai predikat lembaga pendidikan yang juga muncul bak jamur di musim penghujan, seperti boarding school, full day school, sekolah nasional berwawasan internasional, sekolah alam, dan sekolah berwawasan internasional. Semua sebutan itu tidak lain untuk menunjukkan aspek mutu pendidikan yang akan diraihnya.

Lalu, bagaimana sesungguhnya pendidikan yang bermutu tersebut? Dalam tulisan singkat ini akan dijelaskan secara sekilas tentang pandangan UNESCO tentang beberapa dimensi mutu pendidikan. Uraian tentang dimensi mutu pendidikan itu tertuang dalam buku EFA Global Monitoring Report 2005 atau Laporan Pemantauan Global Pendidikan Untuk Semua. Setiap tahun, UNESCO menerbitkan laporan tentang perkembangan pendidikan, baik pendidikan formal dan pendidikan informal, di berbagai belahan dunia.

Pertama, karakteristik pembelajar (learner characteristics)
Dimensi ini sering disebut sebagai masukan (inputs) atau malah masukan kasar (raw inputs) dalam teori fungsi produksi (production function theory), yaitu peserta didik atau pembelajar dengan berbagai latar belakangnya, seperti pengetahuan (aptitude), kemauan dan semangat untuk belajar (perseverance), kesiapan untuk bersekolah (school readiness), pengetahuan siap sebelum masuk sekolah (prior knowledge), dan hambatan untuk pembelajaran (barriers to learning) terutama bagi anak luar biasa. Banyak factor latar belakang peserta didik yang sangat mempengaruhi mutu pendidikan di negeri ini. Banyak anak usia sekolah yang tidak didukung oleh kondisi yang kondusif, misalnya peserta didik yang berasal dari keluarga tidak mampu, keluarga pecah (broken home), kesehatan lingkungan, pola asuh anak usia dini, dan faktor-faktor lain-lainnya. Dimensi ini menjadi faktor awal yang mempengaruhi mutu pendidikan.   

Kedua, pengupayaan masukan (enabling inputs)
Ada dua macam masukan yang akan mempengaruhi mutu pendidikan yang dihasilkan, yaitu sumber daya manusia dan sumber daya fisikal. Guru atau pendidik, kepala sekolah, pengawas, dan tenaga kependidikan lain menjadi sumber daya manusia (human resources) yang akan mempengaruhi mutu hasil belajar siswa (outcomes). Proses belajar mengajar tidak dapat berlangung dengan nyaman dan aman jika fasilitas belajar, seperti gedung sekolah, ruang kelas, buku dan bahan ajar lainnya (learning materials), media dan alat peraga yang dapat diupayakan oleh sekolah, termasuk perpustakaan dan laboratorium, bahkan juga kantin sekolah, dan fasilitas pendidikan lainnya, seperti buku pelajaran dan kurikulum yang digunakan di sekolah. Semua itu dikenal sebagai infrastruktur fisikal (physical infrastructure atau facilities). Singkat kata, mutu SDM yang tersedia di sekolah dan mutu fasilitas sekolah merupakan dua macam masukan yang sangat berpengaruh terhadap mutu pendidikan.

Ketiga, proses belajar-mengajar (teaching and learning)
Dimensi ketiga ini sering disebut sebagai kotak hitam (black box) masalah pendidikan. Dalam kotak hitam ini terdapat tiga komponen utama pendidikan yang saling berinteraksi satu dengan yang lain, yaitu peserta didik, pendidik, dan kurikulum. Tanpa peserta didik, siapa yang akan diajar? Tanpa pendidik, siapa yang akan mengajar, dan tanpa kurikulum, bahan apa yang akan diajarkan? Oleh karena itu mutu proses belajar mengajar, atau mutu interaksi edukatif yang terjadi di ruang kelas, menjadi faktor yang amat berpengaruh terhadap mutu pendidikan. Efektivitas proses belajar-mengajar dipengaruhi oleh: (1) lama waktu belajar, (2) metode mengajar yang digunakan, (3) penilaian, umpan balik, bentuk penghargaan bagi peserta didik, dan (4) jumlah peserta didik dalam satu kelas.

Ruang kelas di Indonesia sangat kering dengan media dan alat peraga. Pakar pendidikan, Dr. Arif Rahman, M.Pd. sering menyebutkan bahwa ruang kelas kita ibarat menjadi penjara bagi anak-anak. Jika diumumkan ada rapat dewan pendidik, dalam arti tidak ada kelas, maka bersoraklah para siswa, ibarat keluar dari pintu penjara tersebut. Sesungguhnya, di sinilah kelemahan terbesar pendidikan di negeri ini. Proses belajar mengajar di ruang kelas kita sangat kering dari penggunaan teknik penguatan (reinforcement), kering dari penggunaan media dan alat peraga yang menyenangkan. Dampaknya, dapat diterka, yaitu hasil belajar yang belum memenuhi standar mutu yang ditentukan. Sentral permasalahan lemahnya proses belajar mengajar di dalam kelas ini, sebenarnya sudah diketahui, yakni kualifikasi dan kompetensi guru. Setengah guru kita belum memenuhi standar kualifikasi. Apalagi dengan standar kompetensinya. Timbullah istilah ‘guru tak layak’. Belum lagi dengan masalah kesejahteraannya. Ada pendapat yang menyatakan bahwa semua masalah bersumber dari masalah kesejahteraan. Memang, kesejahteraan guru menjadi salah satu syarat agar guru dapat disebut sebagai profesi, selain (1) memerlukan keahlian, (2) keahlian itu diperoleh dari proses pendidikan dan pelatihan, (3) keahlian itu diperlukan masyarakat, (4) punya organisasi profesi, (5) keahlian yang dimiliki dibayar dengan gaji yang memadai (Suparlan, 2006).    

Keempat, hasil belajar (outcomes)
Hasil belajar adalah sasaran yang diharapkan oleh semua pihak. Di sini memang terjadi perbedaan harapan dari pihak-pihak tersebut. Pihak dunia usaha dan industri (DUDI) mengharapkan lulusan yang siap pakai. Pendidikan kejuruan dipacu agar dapat memenuhi harapan ini. Sedang pihak praktisi pendidikan pada umumnya cukup berharap lulusan yang siap latih. Alasannya, agar DUDI dapat memberikan peran lebih besar lagi dalam memberikan pelatihan.

Setidaknya, semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan menghasilkan lulusan yang dapat membaca dan menulis (literacy), berhitung (numeracy), dan kecakapan hidup (life skills) Ini memang pasti.  Selain itu, peserta didik harus memiliki kecerdasan emosional dan sosial (emotional dan social intelligences), nilai-nilai lain yang diperlukan masyarakat. Terkait dengan berbagai macam kecerdasan, Howard Gardner menegaskan bahwa “satu-satunya sumbangan paling  penting untuk perkembangan anak adalah membantunya untuk menemukan bidang yang paling cocok dengan bakatnya” (Daniel Goleman, 2002: 49, dalam Suparlan, 2004: 39). Hasil belajar yang akan dicapai sesungguhnya yang sesuai dengan potensinya, sesuai dengan bakat dan kemampuannya, serta sesuai dengan tipe kecerdasannya, di samping juga nilai-nilai kehidupan (values) yang diperlukan untuk memeliharan dan menstransformasikan budaya dan kepribadian bangsa. Dalam perspektif psikologi pendidikan dikenal sebagai ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dalam perspektif sosial dikenal dengan istilah 3H (head, heart, hand). Tokoh pendidikan dari Minang mengingatkan bahwa “Dari pohon rambutan jangan diminta berbuah mangga, tapi jadikanlah setiap pohon mangga itu menghasilkan buah mangga yang manis” (Muhammad Sjafei, INS). Semua itu pada dadarnya untuk mencapai tujuan pendidikan nasional “…. berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab” (Pasal 3 UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional).  

Kelima, konteks (contexts) atau lingkungan (environments)
Keempat dimensi yang telah dijelaskan tersebut saling pengaruh-mempengaruhi dengan konteks (contexts) atau lingkungan (environments) yang meliputi berbagai aspek alam, sosial, ekonomi, dan budaya, sebagai berikut:
  • Economics and labour market conditions in the community atau kondisi pasar ekonomi dan pasar dalam masyarakat.
  • Socio-cultural and religious factors atau faktor religius dan sosip-kultural.
  • Educational knowledge and support infrastructure atau pengetahuan dan infrastruktur yang mendukung dunia pendidikan.
  • PUBLIC RESOURCES AVAILABLE FOR EDUCATION atau ketersediaan sumber-sumber masyarakat untuk pendidikan.
  • Competitiveness of the teaching profession on the labour market atau daya saing profesi mengajar pada pasar tenaga kerja.
  • National governance and management strategies atau strategi manajemen dan tata kelola pemerintahan.
  • Philosophical standpoint of teacher and learner atau pandangan filosofis guru dan peserta didik.
  • Peer effects atau pengaruh teman sebaya.
  • PARENTAL SUPPORT atau dukungan orangtua atau keluarga.
  • Time available for schooling and home works atau ketersediaan waktu untuk sekolah dan PR.
  • National standards atau standar-standar nasional.
  • PUBLIC EXPECTATIONS atau harapan masyarakat.
  • Labour market demands permintaan pasar tenaga kerja.
  • Globalization atau globalisasi.
Pada awalnya, peran orangtua (rumah) dan keluarga belum dipandang sebagai dimensi yang benar-benar berpengaruh terhadap mutu pendidikan. Sekarang dukungan orangtua menjadi salah satu faktor yang berpengaruh terhadap hasil belajar peserta didik. Dalam kajian tentang sekolah efektif (effective school), dukungan orangtua siswa dan masyarakat menjadi salah satu faktor dalam sekolah efektif.
info
10.41

PSIKOLOGI PENDIDIKAN

Pendidikan adalah proses pertumbuhan yang berlangsung melalui tindakan-tindakan belajar. Sedangkan Psikologi pendidikan adalah studi yang sistematis terhadap proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pendidikan. Dari batasan di atas terlihat adanya kaitan yang sangat kuat antara psikologi pendidikan dengan tindakan belajar. Karena itu, tidak mengherankan apabila beberapa ahli psikologi pendidikan menyebutkan bahwa lapangan utama studi psikologi pendidikan adalah soal belajar. Dengan kata lain, psikologi pendidikan memusatkan perhatian pada persoalan-persoalan yang berkenaan dengan proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan tindakan belajar.


Karena konsentrasinya pada persoalan belajar, yakni persoalan-persoalan yang senantiasa melekat pada subjek didik, maka konsumen utama psikologi pendidikan ini pada umumnya adalah pada pendidik. Mereka memang dituntut untuk menguasai bidang ilmu ini agar mereka, dalam menjalankan fungsinya, dapat menciptakan kondisi-kondisi yang memiliki daya dorong yang besar terhadap berlangsungnya tindakan-tindakan belajar secara efektif.

Mendorong Tindakan-tindakan Belajar
Demikian juga, subjek didik sering dipersepsikan sebagai sosok yang bertugas mengkonsumsi informasi-informasi dan pengetahuan yang disampaikan pendidik. Semakin banyak informasi pengetahuan yang mereka serap atau simpan semakin baik nilai yang mereka peroleh, dan akan semakin besar pula pengakuan yag mereka dapatkan sebagai individu terdidik.

Fungsi pendidik menjejalkan informasi pengetahuan sebanyak-banyakya kepada subjek didik dan fungsi subjek didik menyerap dan mengingat-ingat keseluruhan informasi itu, semakin tidak relevan lagi mengingat bahwa pengetahuan itu sendiri adalah sesuatu yang dinamis dan tidak terbatas. Dengan kata lain, pengetahuan-pengetahuan (yang dalam perasaan dan pikiran manusia dapat dihimpun) hanya bersifat sementara dan berubah-ubah, tidak mutlak (Goble, 1987 : 46). Fungsi ini, dalam batas-batas tertentu, perlu dipertahankan, tetapi harus dikombinasikan dengan fungsi-fungsi sosial yang lebih luas, yakni membantu subjek didik untuk memadukan informasi-informasi yang terpecah-pecah dan tersebar ke dalam satu falsafah yang utuh. Sebagai penengah, pendidik harus mengetahui dimana letak sumber-sumber informasi pengetahuan tertentu dan mengatur mekanisme perolehannya apabila sewaktu-waktu diperlukan oleh subjek didik.Dengan perolehan informasi pengetahuan tersebut, pendidik membantu subjek didik untuk mengembangkan kemampuannya mereaksi dunia sekitarnya. Dari deskripsi di atas terlihat bahwa indikator dari satu tindakan belajar yang berhasil adalah : bila subjek didik telah mengembangkan kemampuannya sendiri. Adalah tugas pendidik untuk menciptakan kondisi yang kondusif bagi berlangsungnya tindakan belajar secara efektif.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Proses dan Hasil Belajar
Agar fungsi pendidik sebagai motivator, inspirator dan fasilitator dapat dilakonkan dengan baik, maka pendidik perlu memahami faktor-faktor yang dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar subjek didik. Faktor-faktor itu lazim dikelompokkan atas dua bahagian, masing-masing faktor fisiologis dan faktor psikologis (Depdikbud, 1985 :11).

1. Faktor Fisiologis
Faktor-faktor fisiologis ini mencakup faktor material pembelajaran, faktor lingkungan, faktor instrumental dan faktor kondisi individual subjek didik.Material pembelajaran turut menentukan bagaimana proses dan hasil belajar yang akan dicapai subjek didik. Karena itu, penting bagi pendidik untuk mempertimbangkan kesesuaian material pembelajaran dengan tingkat kemampuan subjek didik ; juga melakukan gradasi material pembelajaran dari tingkat yang paling sederhana ke tingkat lebih kompeks.

Faktor lingkungan, yang meliputi lingkungan alam dan lingkungan sosial, juga perlu mendapat perhatian. Belajar dalam kondisi alam yang segar selalu lebih efektif dari pada sebaliknya. Demikian pula, belajar padapagi hari selalu memberikan hasil yang lebih baik dari pada sore hari. Sementara itu, lingkungan sosial yang hiruk pikuk, terlalu ramai, juga kurang kondisif bagi proses dan pencapaian hasil belajar yang optimal.

Yang tak kalah pentingnya untuk dipahami adalah faktor-faktor instrumental, baik yang tergolong perangkat keras (hardware) maupun perangkat lunak (software). Perangkat keras seperti perlangkapan belajar, alat praktikum, buku teks dan sebagainya sangat berperan sebagai sarana pencapaian tujuan belajar. Karenanya, pendidik harus memahami dan mampu mendayagunakan faktor-faktor instrumental ini seoptimal mungkin demi efektifitas pencapaian tujuan-tujuan belajar.

Faktor fisiologis lainnya yang berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar adalah kondisi individual subjek didik sendiri. Termasuk ke dalam faktor ini adalah kesegaran jasmani dan kesehatan indra. Subjek didik yang berada dalam kondisi jasmani yang kurang segar tidak akan memiliki kesiapan yang memadai untuk memulai tindakan belajar.

2. Faktor Psikologis
Faktor-faktor psikologis yang berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar, jumlahnya banyak sekali, dan masing-masingnya tidak dapat dibahas secara terpisah.

Perilaku individu, termasuk perilaku belajar, merupakan totalitas penghayatan dan aktivitas yang lahir sebagai hasil akhir saling pengaruh antara berbagai gejala, seperti perhatian, pengamatan, ingatan, pikiran dan motif.

2.1. Perhatian
Tentulah dapat diterima bahwa subjek didik yang memberikan perhatian intensif dalam belajar akan memetik hasil yang lebih baik. Perhatian intensif ditandai oleh besarnya kesadaran yang menyertai aktivitas belajar. Perhatian intensif subjek didik ini dapat dieksloatasi sedemikian rupa melalui strategi pembelajaran tertentu, seperti menyediakan material pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan subjek didik, menyajikan material pembelajaran dengan teknik-teknik yang bervariasi dan kreatif, seperti bermain peran (role playing), debat dan sebagainya.

Strategi pemebelajaran seperti ini juga dapat memancing perhatian yang spontan dari subjek didik. Perhatian yang spontan dimaksudkan adalah perhatian yang tidak disengaja, alamiah, yang muncul dari dorongan-dorongan instingtif untuk mengetahui sesuatu, seperti kecendrungan untuk mengetahui apa yang terjadi di sebalik keributan di samping rumah, dan lain-lain. Beberapa hasil penelitian psikologi menunjukkan bahwa perhatian spontan cendrung menghasilkan ingatan yang lebih lama dan intensif dari pada perhatian yang disengaja.

2.2. Pengamatan
Pengamatan adalah cara pengenalan dunia oleh subjek didik melalui penglihatan, pendengaran, perabaan, pembauan dan pengecapan. Pengamatan merupakan gerbang bai masuknya pengaruh dari luar ke dalam individu subjek didik, dan karena itu pengamatan penting artinya bagi pembelajaran.

Untuk kepentingan pengaturan proses pembelajaran, para pendidik perlu memahami keseluruhan modalitas pengamatan tersebut, dan menetapkan secara analitis manakah di antara unsur-unsur modalitas pengamatan itu yang paling dominan peranannya dalam proses belajar. Kalangan psikologi tampaknya menyepakati bahwa unsur lainnya dalam proses belajar. Dengan kata lain, perolehan informasi pengetahuan oleh subjek didik lebih banyak dilakukan melalui penglihatan dan pendengaran.

Jika demikian, para pendidik perlu mempertimbangkan penampilan alat-alat peraga di dalam penyajian material pembelajaran yang dapat merangsang optimalisasi daya penglihatan dan pendengaran subjek didik. Alat peraga yang dapat digunakan, umpamanya ; bagan, chart, rekaman, slide dan sebagainya.

2.3. Ingatan
Secara teoritis, ada 3 aspek yang berkaitan dengan berfungsinya ingatan, yakni (1) menerima kesan, (2) menyimpan kesan, dan (3) memproduksi kesan. Mungkin karena fungsi-fungsi inilah, istilah “ingatan” selalu didefinisikan sebagai kecakapan untuk menerima, menyimpan dan mereproduksi kesan.

Kecakapan merima kesan sangat sentral peranannya dalam belajar. Melalui kecakapan inilah, subjek didik mampu mengingat hal-hal yang dipelajarinya.

Dalam konteks pembelajaran, kecakapan ini dapat dipengaruhi oleh beberapa hal, di antaranya teknik pembelajaran yang digunakan pendidik. Teknik pembelajaran yang disertai dengan penampilan bagan, ikhtisar dan sebagainya kesannya akan lebih dalam pada subjek didik. Di samping itu, pengembangan teknik pembelajaran yang mendayagunakan “titian ingatan” juga lebih mengesankan bagi subjek didik, terutama untuk material pembelajaran berupa rumus-rumus atau urutan-urutan lambang tertentu. Contoh kasus yang menarik adalah mengingat nama-nama kunci nada g (gudeg), d (dan), a (ayam), b (bebek) dan sebagainya.

Hal lain dari ingatan adalah kemampuan menyimpan kesan atau mengingat. Kemampuan ini tidak sama kualitasnya pada setiap subjek didik. Namun demikian, ada hal yang umum terjadi pada siapapun juga : bahwa segera setelah seseorang selesai melakukan tindakan belajar, proses melupakan akan terjadi. Hal-hal yang dilupakan pada awalnya berakumulasi dengan cepat, lalu kemudian berlangsung semakin lamban, dan akhirnya sebagian hal akan tersisa dan tersimpan dalam ingatan untuk waktu yang relatif lama.

Untuk mencapai proporsi yang memadai untuk diingat, menurut kalangan psikolog pendidikan, subjek didik harus mengulang-ulang hal yang dipelajari dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama. Implikasi pandangan ini dalam proses pembelajaran sedemikian rupa sehingga memungkinkan bagi subjek didik untuk mengulang atau mengingat kembali material pembelajaran yang telah dipelajarinya. Hal ini, misalnya, dapat dilakukan melalui pemberian tes setelah satu submaterial pembelajaran selesai.

Kemampuan resroduksi, yakni pengaktifan atau prosesproduksi ulang hal-hal yang telah dipelajari, tidak kalah menariknya untuk diperhatikan. Bagaimanapun, hal-hal yang telah dipelajari, suatu saat, harus diproduksi untuk memenuhi kebutuhan tertentu subjek didik, misalnya kebutuhan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam ujian ; atau untuk merespons tantangan-tangan dunia sekitar.

Pendidik dapat mempertajam kemampuan subjek didik dalam hal ini melalui pemberian tugas-tugas mengikhtisarkan material pembelajaran yang telah diberikan.

2.4. Berfikir
Definisi yang paling umum dari berfikir adalah berkembangnya ide dan konsep (Bochenski, dalam Suriasumantri (ed), 1983:52) di dalam diri seseorang. Perkembangan ide dan konsep ini berlangsung melalui proses penjalinan hubungan antara bagian-bagian informasi yang tersimpan di dalam didi seseorang yang berupa pengertian-perngertian. Dari gambaran ini dapat dilihat bahwa berfikir pada dasarnya adalah proses psikologis dengan tahapan-tahapan berikut : (1) pembentukan pengertian, (2) penjalinan pengertian-pengertian, dan (3) penarikan kesimpulan.

Kemampuan berfikir pada manusia alamiah sifatnya. Manusia yang lahir dalam keadaan normal akan dengan sendirinya memiliki kemampuan ini dengan tingkat yang reletif berbeda. Jika demikian, yang perlu diupayakan dalam proses pembelajaran adalah mengembangkan kemampuan ini, dan bukannya melemahkannya. Para pendidik yang memiliki kecendrungan untuk memberikan penjelasan yang “selengkapnya” tentang satu material pembelajaran akan cendrung melemahkan kemampuan subjek didik untuk berfikir. Sebaliknya, para pendidik yang lebih memusatkan pembelajarannya pada pemberian pengertian-pengertian atau konsep-konsep kunci yang fungsional akan mendorong subjek didiknya mengembangkan kemampuan berfikir mereka. Pembelajaran seperti ni akan menghadirkan tentangan psikologi bagi subjek didik untuk merumuskan kesimpulan-kesimpulannya secara mandiri.

2.5. Motif
Motif adalah keadaan dalam diri subjek didik yang mendorongnya untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu. Motif boleh jadi timbul dari rangsangan luar, seperti pemberian hadiah bila seseorang dapat menyelesaikan satu tugas dengan baik. Motif semacam ini sering disebut motif ekstrensik. Tetapi tidak jarang pula motif tumbuh di dalam diri subjek didik sendiri yang disebut motif intrinsik. Misalnya, seorang subjek didik gemar membaca karena dia memang ingin mengetahui lebih dalam tentang sesuatu.

Dalam konteks belajar, motif intrinsik tentu selalu lebih baik, dan biasanya berjangka panjang. Tetapi dalam keadaan motif intrinsik tidak cukup potensial pada subjek didik, pendidik perlu menyiasati hadirnya motif-motif ekstrinsik. Motif ini, umpamanya, bisa dihadirkan melalui penciptaan suasana kompetitif di antara individu maupun kelompok subjek didik. Suasana ini akan mendorong subjek didik untuk berjuang atau berlomba melebihi yang lain.Namun demikian, pendidik harus memonitor suasana ini secara ketat agar tidak mengarah kepada hal-hal yang negatif.

Motif ekstrinsik bisa juga dihadirkan melalui siasat “self competition”, yakni menghadirkan grafik prestasi individual subjek didik.Melalui grafik ini, setiap subjek didik dapat melihat kemajuan-kemajuannya sendiri. Dan sekaligus membandingkannya dengan kemajuan yang dicapai teman-temannya.Dengan melihat grafik ini, subjek didik akan terdorong untuk meningkatkan prestasinya supaya tidak berada di bawah prestasi orang lain.
info